Image
0

Aku Memanggilnya, Dee

Februari kembali hadir bersama sisa-sisa hujan Januari yang dingin. Februari yang malam-malamnya diliputi kebekuan karena dingin yang mencekam akibat  hujan membadai. Aku selalu ingat pada pagi itu. Pagi yang berkabut dan dingin di langit kalbuku. Tak ada cahaya matahari. Hening tapi tak terasa damai. Sesekali terdengar  tetesan gerimis di luar jendela kamarku…tik tik tik. Lalu memecah sunyi lamunanku. Masih awan mendung yang menghiasi di luar jendela kamarku. Mendung yang sebenarnya telah lelah ku saksiakn tiap pagiku tiba.

Pada sebuah pagi di hari ke Sembilan bulan februari, sebuah wajah hadir di hening pagiku. Ia tersenyum menatapku. Ia mendekat lalu menyapaku “ halo selamat pagi, apa kabarmu?” lalu sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Sangat indah. Seperti mentari yang telah lama kurindukan hadirnya untuk menerangi pagiku. Hari kesepuluh di bulan februari, wajah itu masih setia menyapa di hening pagiku. Masih dengan senyumnya yang hangat. Ia mengajakku untuk bercerita, berbagi apa saja yang dirasa. Kami seperti dua orang teman lama yang telah lama terpisah dan dipertemukan kembali. Saling mengisi, saling melengkapi. Akan merasa bahagia ketika yang lain berbahagia dan akan merasa tidak baik-baik saja ketika yang lain tidak baik-baik saja.

Hari kesebelas dan seterusnya wajah itu tetap setia menemaniku. Bukan hanya di hening pagiku, namun di sepanjang hari dan malam-malamku. Kini ia telah menjelma bintang yang menghiasi malam-malam gelapku. Menjelma matahari yang menerangi hari-hariku. Sekarang dan nanti, tak ada alasan untuk tidak berbahagia karena dialah kebahagiaan itu. Pagi ini dan seterusnya, aku ingin terus meyakini bahwa rindunya akan selalu menantiku di hening pagiku. Aku menyayangimu, Dee…seperti sebelumnya, sampai saat ini, esok dan  nanti. IMG_15155106488700