Image
0

Move On

417535_382524091760199_100000078347941_1495620_593010385_n

Move on itu tidak semudah kita menutup buku seusai kita menyelesaikan lembar terakhirnya. Ada banyak rasa yang menyertainya. Kekecewaan yang membuncah, air mata yang tumpah, luka segar yang menganga, dan tak jarang kemarahan turut menyertainya. Ada kenangan yang harus ditepis. Ada otak yang tak pernah berhenti berceloteh. Membolak – balikkan pikiran. Menaik turunkan suasana hati.

Move on itu seperti kita secara tidak siap mendapati hati kita yang hancur menjadi kepingan – kepingan yang berceceran bersama darah yang mengalirinya. Butuh kebesaran hati untuk menerima semuanya. Butuh banyak waktu untuk mencerna semuanya.

Move on adalah cara kita belajar bersabar. Belajar iklas menerima keadaan yang tidak seperti impian kita. Adalah cara kita membuka pikiran kita bahwa akan ada yang jauh lebih baik sesudahnya. Bahwa ketika sesuatu berakhir adalah awal dari perjalanan yang lainnya.

Lalu waktu adalah satu – satunya obat untuk menyembuhkan semua luka. Memulihkan semua tenaga untuk selanjutnya terus berjalan sampai kita menemukan rumah hati kita yang sebenarnya. Waktu pulalah yang akan menetralisir segala rasa dan menjadikannya seperti awal mula.

Dan waktu pulalah yang aku butuhkan sekarang untuk kita kembali seperti dulu. Menjadi dua manusia aneh yang mengobrol tentang hal – hal aneh tanpa terikat rasa yang aneh seperti yang sempat ada kemarin. Aku yakin, nanti akan ada masanya ketika kita bisa tertawa bersama lagi di teras biru ini. Aku masih merindukan kisah – kisahmu. Masih memimpikan semua akan kembali seperti awal mula kita bertemu. Aku akan terus menunggu sampai waktu itu tiba.

Image

Someday We’ll Know

“90 miles outside Chicago
Can’t stop driving I don’t know why
So many questions I need an answer
Two years laterYou’re still on my mind…”

Pernahkah kamu menyempatkan untuk bertanya kenapa kita harus bertemu? Kebaikan atau kesalahan di masa lalu yang mana yang menakdirkan kita akhirnya harus saling bertemu? Kenapa aku harus duduk di depan bar itu, memesan kopi yang ketiga, sampai kemudian kamu datang dan menyapa? Kenapa aku harus berkunjung ke kantormu lalu kita berbagi oksigen di dalam tabung lift yang sama, sampai berkali-kali?

Lalu, pernahkah kamu bertanya, mengapa kita harus berpisah? Mengapa setelah semua kebetulan-kebetulan kecil yang akhirnya mengantarkan kita berdua di sebuah kafe dan saling menyapa, menukar nomor telepon, dan berjanji untuk bertemu seminggu kemudian, tapi kita malah memutuskan untuk saling menempatkan jeda? Mengapa setelah kita bersusahpayah membangun our castle of sand, lalu kamu berubah menjadi seperti ombak yang menjilati pinggiran pantai; meruntuhkan istana pasir kita dalam sekejab saja?

I can’t stop asking all those questions. Kenapa kita harus bertemu, lalu berpisah? Kenapa kita hanya diberi jatah sebanyak seratus tiga puluh dua hari saja untuk menikmati cinta yang merah muda, lalu kebahagiaan itu direnggut terpaksa?

Sambil menikmati secangkir kopi, di pantry kantor, sahabatku pernah bilang, “You’ll never know the answers. You’re living the answers. Hidup lo nanti, adalah jawaban dari segala pertanyaan-pertanyaan ‘kenapa begini, begitu’ lo itu.”

Dia benar. Setelah semua ini usai, harusnya aku tahu kenapa kita dulu harus bertemu untuk kemudian berpisah tak lama setelah itu. Setelah semua ini usai, aku akan tahu kenapa dunia susah payah berkonspirasi untuk mempertemukan kita lalu mengacaukan semuanya. Ya, setelah semua ini usai, katanya, aku bakal tahu.

Tapi, itu kalau ‘usai’. Bagaimana kalau sampai hari ini aku tidak pernah merasa ‘usai’ denganmu?

“Someday we’ll know if love can move a mountain
Someday we’ll know why the sky is blue
Someday we’ll know why I wasn’t meant for you

Someday we’ll know why Samson loved Delilah
One day I’ll go dancing on the moon
Someday you’ll know that I was the one for you…” 

Masih kubaca email-emailmu. Masih kudengarkan CD kompilasi lagu-lagu favoritmu, yang tiap kali kau hadiahkan untukku.

Masih kulihat film Serendipity kesukaanmu, sekadar untuk mengulang kebersamaan kita di depan televisi apartemenmu, di suatu masa lalu.
Masih nelangsa saat tahu kamu menangisi perpisahan kita, waktu itu.

Masih kulakukan semua kebiasaan yang tidak membawaku beranjak dari masa lalu. Like doing some traveling to the future with you inside my suitcase. Aku seolah ingin berlalu, tapi masih mengajakmu di dalam setiap jengkal ingatanku.

Jadi, kapan bisa kujawab pertanyaan itu? That someday I’ll know why I wasn’t meant for you? That someoday you’ll know that I was the one for you? Kalau kamu masih tinggal di setiap jengkal hidup dan ingatanku
Kalau kamu masih menjadi segalanya untukku?

d43bcf622b37dc84352fc7211337ff11

a song someday we’ll know by Mandy Moree from A walk to remember the movie

Image
0

Tentang Arin

arin erna

Namanya Arin. Dia adalah salah satu siswa di sekolah tempat saya mengajar. Dia duduk di kelas satu. dia termasuk anak yang cerdas dan memiliki bakat menggambar yang bagus. Dia tidak terlalu banyak bicara seperti anak – anak yang lainnya. Tapi ketika berada di dekat saya, maka dia akan banyak bercerita tentang apa saja. Mimpi – mimpinya, keluarganya, atau apa saja yang dialaminya. Dia juga akan menanyai saya tentang banyak hal, meminta saya bercerita tentang masa kecil saya dan sebagainya. Saya sangat menyukai dandanan rambutnya yang unik. Dua kuncir yang unik di kepalanya dengan poni rata menutupi jidatnya membuatnya terlihat sangat manis.

Melihat Arin, saya seperti melihat diri saya sendiri sewaktu kecil. Mata bulatnya, pipinya yang chubby dan poninya selalu mengingatkan saya pada masa kecil saya. Dulu, ibu selalu memotong rambut saya seperti model rambut Arin sekarang. Waktu kecil saya juga termasuk anak yang tidak banyak bicara seperti Arin. saya juga suka menggambar seperti dia. Tapi setelah dewasa entah kemana hilangnya bakat menggambar itu. Kadang saya rindu ingin menggambar seperti dulu.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kertas sederhana bertuliskan Arin sayang buguru darinya. Lalu keesokan harinya dia memberiku setangkai bunga mawar merah yang masih sangat segar, manis sekali. Saya selalu ingat ekspresi wajahnya yang malu – malu ketika memberikan kertas itu, yang saya sebut sebagai surat cinta dari Arin.

Terimakasih yah, Arin sayang. Buguru juga sangat menyayangi Arin. Tetaplah menjadi anakmanis yang menyenangkan. Loveyou.