Image

Someday We’ll Know

“90 miles outside Chicago
Can’t stop driving I don’t know why
So many questions I need an answer
Two years laterYou’re still on my mind…”

Pernahkah kamu menyempatkan untuk bertanya kenapa kita harus bertemu? Kebaikan atau kesalahan di masa lalu yang mana yang menakdirkan kita akhirnya harus saling bertemu? Kenapa aku harus duduk di depan bar itu, memesan kopi yang ketiga, sampai kemudian kamu datang dan menyapa? Kenapa aku harus berkunjung ke kantormu lalu kita berbagi oksigen di dalam tabung lift yang sama, sampai berkali-kali?

Lalu, pernahkah kamu bertanya, mengapa kita harus berpisah? Mengapa setelah semua kebetulan-kebetulan kecil yang akhirnya mengantarkan kita berdua di sebuah kafe dan saling menyapa, menukar nomor telepon, dan berjanji untuk bertemu seminggu kemudian, tapi kita malah memutuskan untuk saling menempatkan jeda? Mengapa setelah kita bersusahpayah membangun our castle of sand, lalu kamu berubah menjadi seperti ombak yang menjilati pinggiran pantai; meruntuhkan istana pasir kita dalam sekejab saja?

I can’t stop asking all those questions. Kenapa kita harus bertemu, lalu berpisah? Kenapa kita hanya diberi jatah sebanyak seratus tiga puluh dua hari saja untuk menikmati cinta yang merah muda, lalu kebahagiaan itu direnggut terpaksa?

Sambil menikmati secangkir kopi, di pantry kantor, sahabatku pernah bilang, “You’ll never know the answers. You’re living the answers. Hidup lo nanti, adalah jawaban dari segala pertanyaan-pertanyaan ‘kenapa begini, begitu’ lo itu.”

Dia benar. Setelah semua ini usai, harusnya aku tahu kenapa kita dulu harus bertemu untuk kemudian berpisah tak lama setelah itu. Setelah semua ini usai, aku akan tahu kenapa dunia susah payah berkonspirasi untuk mempertemukan kita lalu mengacaukan semuanya. Ya, setelah semua ini usai, katanya, aku bakal tahu.

Tapi, itu kalau ‘usai’. Bagaimana kalau sampai hari ini aku tidak pernah merasa ‘usai’ denganmu?

“Someday we’ll know if love can move a mountain
Someday we’ll know why the sky is blue
Someday we’ll know why I wasn’t meant for you

Someday we’ll know why Samson loved Delilah
One day I’ll go dancing on the moon
Someday you’ll know that I was the one for you…” 

Masih kubaca email-emailmu. Masih kudengarkan CD kompilasi lagu-lagu favoritmu, yang tiap kali kau hadiahkan untukku.

Masih kulihat film Serendipity kesukaanmu, sekadar untuk mengulang kebersamaan kita di depan televisi apartemenmu, di suatu masa lalu.
Masih nelangsa saat tahu kamu menangisi perpisahan kita, waktu itu.

Masih kulakukan semua kebiasaan yang tidak membawaku beranjak dari masa lalu. Like doing some traveling to the future with you inside my suitcase. Aku seolah ingin berlalu, tapi masih mengajakmu di dalam setiap jengkal ingatanku.

Jadi, kapan bisa kujawab pertanyaan itu? That someday I’ll know why I wasn’t meant for you? That someoday you’ll know that I was the one for you? Kalau kamu masih tinggal di setiap jengkal hidup dan ingatanku
Kalau kamu masih menjadi segalanya untukku?

d43bcf622b37dc84352fc7211337ff11

a song someday we’ll know by Mandy Moree from A walk to remember the movie

Advertisements