Selamat Tinggal, Dear Coffee

“Terkadang kita harus meninggalkan sesuatu bukan karena kita tidak lagi mencintai sesuatu itu, tapi terkadang kita harus pergi lebih karena untuk kebaikan semua”.

Beberapa hari ini saya benar-benar harus bedrest. Dan benar-benar kalah oleh rasa sakit di perut saya yang sama sekali tidak bisa saya tolelir. Perih, mual, kembung, panas, lengkap semua. Saking sakitnya semalam suntuk saya ga bisa tidur, bener-bener nikmat deh rasanya,hihihi. Setelah saya priksain ke dokter ternyata maag akut saya kumat lagi. Kalo udh kaya gini jadi ngerasa berharga banget deh yang namanya sehat.

Terakhir rasa sakit ini menyerang tubuh saya adalah beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2006. Udah lama banget yah. Waktu itu saya masih ngekost di Semarang. Wah ngerepotin semua orang di kost  tuh. Waktu itu yang saya rasain malah lebih parah dari ini. Sampe priksa di beberapa dokter dan tidak juga sembuh. Namun pada akhirnya nemuin dokter yang pas juga dan diberi kesembuhan sama Tuhan. Amiinnn.

Selama saya bedrest di rumah dan ninggalin tugas saya bermain-main dengan anak-anak lugu yang ngangenin di kampung sono, saya jadi mengingat-ingat penyebab penyakit ini kambuh lagi. Diantaranya adalah keteledoran saya yang menganggap sepele sarapan, menganggap sepele minum kopi kesukaan saya. Saya adalah pecinta kopi. Hidup tu ga lengkap tanpa kopi. Kopi itu buat saya bisa jadi sebagai mood boster. Nha beberapa hari lalu tu saya beberapa kali minum kopi. Karena cinta saya sama kopi, saya ga mikir kalau akibatnya bakal sefatal ini.

Nha mulai dari sini saya memang harus berhati-hati dengan makanan. Dengan terpaksa dan berat hati saya harus ninggalin kopi, sambel dan kawan-kawannya yang menurut dokter adalah penyebab penyakit maag. Seberapapun cinta saya sama kopi dan sambel harus tetap saya tinggalkan. Bukan karena saya tidak lagi cinta, tapi lebih untuk kebaikan kesehatan saya kedepannya. Kalau saya mau hidup saya tetap baik-baik ya harus nurut. Selamat tinggal kopi dan sambel.

Memang benar bahwa segala hal di dunia ini akan selalu ada resikonya. Setiap pilihan akan selalu ada konsekuensinya. Yang terpenting dari semua adalah melihat pada sisi baiknya. okesipp.

Pic by Ernanda Putra

Advertisements

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s