Image
0

Selamat Tinggal, Byru

Hai Byru,
Baru saja aku liat mini drama AADC, hikss jadi inget jaman SMA. Inget Cinta dan Rangga. Inget kisah cinta mereka yang berakhir dengan perpisahan yang tiba-tiba. Inget Rangga yang cerdas, pendiem dan misterius kaya kamu. Inget Cinta yang cerdas, terkenal tapi malah jatuh cinta sama cowo cupu kaya Rangga. Dan seperti katamu dulu…

“Karena tidak semua hal harus memiliki alasan”

Terkadang hal yang di mata kita sangat tidak mungkin terjadi, justru malah terjadi. Namun kadang yang kita pikir bakal terjadi, pada kenyataannya malah tidak terjadi. Begitulah hidup, selalu tidak dapat diprediksi. Seperti halnya cuaca, perasaan juga tak dapat ditebak. Kita tidak bisa mengarahkan perasaan kita untuk jatuh cinta pada si A ato si B. Mencintai itu terjadi begitu saja, tanpa bisa kita stir harus kesini atau kesana.

Byru,
Setelah melihat mini drama tadi, aku seperti menemukan langkah bagaimana aku harus menyikapimu. Keangkuhan, keacuhan yang kau tampakkan dihadapanku mengisyaratkan bahwa aku harus melupakanmu. Walaupun aku tahu di dalam hatiku dan aku juga sangat yakin didalam hatimu rasa cinta itu masih ada, entah berapapun kadarnya. Melupakanmu,mengiklaskanmu, membiarkan waktu berjalan seperti sebagaimana ia harus berjalan. Mengalir mengikuti arusnya. Dengan terus berbaik sangka kepada Dia, sang maha menggenggam. Terus memperbaiki diri dan melakukan semua yang terbaik untuk hidup kita masing-masing.

Byru,
Aku sangat yakin, kelak jika kita memang berjodoh, kita pasti akan dipertemukan kembali. Entah bagaimanapun caranya. Semua yang menjadi bagian kita pasti akan mendekat kepada kita. Biarlah sekarang semua menjadi rahasiaNya. Sekarang kita jalani saja dengan baik hidup kita masing-masing. Semoga jika suatu saat kita memang akan dipertemukan kembali, aku sudah menjadi manusia yang lebih baik, lebih pantas mendampingimu.

Byru,
Kalaupun pada akhirnya kita memang tidak dipertemukan kembali, aku yakin Dia sudah menyiapkan sesuatu yang lain, yang lebih baik untuk kita. Karena segala hal di dunia ini sangat mungkin terjadi. Dan ketika semua hal yang kita upayakan tidak membuat semua berjalan seperti sebagaimana mimpi kita, maka pada saat itulah waktunya kita untuk menyerahkan semua padanya. Jadi, mari kita berserah diri saja, Byru. Menyibukkan diri, menenggelamkan diri dalam rutinitas hidup kita masing-masing. Melakukan semua yang terbaik untuk hidup kita.

Selamat tinggal, Byru. I will always miss you.

Alone_by_homigl14

Advertisements
Image
0

Kembali, Bagian #3

“udaaahh..jangan dipandangin foto-fotonya aja. Terima kembali orangnya, baru oke” ledek Daniel  yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang tempat dudukku, di salah satu sudut coffe shop langganan kami.

“apa sih lu..”jawabku sewot

“gue cuma pengen liat temen gue ini bahagia. Kalau lu bahagia kan gue ga perlu sibuk-sibuk menghibur lu” ucapnya lagi sambil tergelak

“oooooo..jadi selama ini gue tu ngrepotin lu gitu. Okeeee…..ga lagi-lagi gue curhat sama lu,huuuhh” ucapku masih dalam nada sewot

“hahahaha….marah dia” ucapnya tergelak

Daniel menyesap kopi yang telah ku pesankan beberapa menit sebelum ia datang. Sambil sesekali memperhatikan aku yang masih asik dengan tablet dihadapanku.

“kenapa sih lu masih aja ga yakin sama cowo yang nyata-nyata masih sayang banget sama lu. udah nungguin lo sekian tahun. Terus sekarang kalian dipertemukan lagi. Jarang lho ada cowo kaya gitu, Re. Kalau gue jadi dia nih ya, gue udah ninggalin lu dari dulu” ucapnya kali ini dalam nada serius

“hmmmm…. gimana ya. Sebenernya gue bukannya ga yakin sama dia, Dan. Bukannya ga cinta sama dia. Tapiiii…. gue ga yakin pantes buat dia. Gue masih inget ucapan ibunya dulu. Kalau Arga itu keturunan darah biru. Ga pantes perempuan biasa kaya gue jadi pendamping dia” ucapku getir

“yaelah, Re. Hari gini masih mikirin darah biru, kuning, ijo, ato merah. Kalau cinta ya cinta aja. Ga perlu alasan lain. Ini tu tahun 2014 Masehi, Re. Bukan 2014 sebelum masehi. Ga usah mikirin nyokapnya setuju ato enggak. Yang terpenting Arga cinta sama lu, dan dia mau memperjuangkan cinta kalian. Sekarang tinggal elunya” ucapnya lagi kali ini lebih serius

“tapi masalahnya orang Solo kan emang kaya gitu, Dan. Mereka sangat peduli dengan bibit bebet bobot. Dan mengacu pada itu semua, aku tu sama sekali ga masuk kriteria mereka” jawabku

“bego lu…udah dibilangin, kalo cinta ya cinta aja. Tinggal kaliannya mau berjuang bersama-sama ato enggak. Kalau kalian mau berjuang bersama-sama, kalian pasti akan menang. Tapi kalau kamunya memilih kalah kaya sekarang ya nyokapnya Arga yang menang ”ucapnya berapi-api

Aku terdiam. Mencoba mencerna semua ucapan Daniel. Mengalihkan pandanganku ke jalanan di luar coffe shop. Mataku menerawang. Mengingat semua kebaikan Arga, kegigihannya, keyakinannya, kesabarannya dan cintanya yang tak pernah putus terhadapku.

*

“cinta itu kesabaran, keyakinan dan keberanian. Cinta itu tidak putus asa” begitu kira-kira kicau Arga di jejaring sosial twitter.

Membaca kalimat itu rasanya sedih. Ada nyeri didalam hatiku. Ingin rasanya aku menyerah dengan keangkuhanku dan berlari kepadanya. Berjanji untuk terus bersama-sama melewati apa saja. Mewujudkan mimpi-mimpi kami dahulu. Membuktikan pada ibunya bahwa cinta yang kami miliki lebih besar dari ketidak setujuannya.

love_by_toxiclovekid-d4ju4la

Bersambung….

 

Image
0

I Am Lost

Hai, Byru
Apa kabarmu hari ini? Indahkah harimu? Doaku selalu. Semoga semua berjalan seperti yang kau harapkan. Selalu dalam lindungan dan ridhoNya. Amiinn.

Byru,
Hari ini adalah hari terberatku. Rasanya ingin menyerah. Ingin menangis. Ingin teriak. Aku benar-benar sangat marah hari ini. Sangat kecewa. Dan aahhhhh entahlah. Semua terasa sangat berat. And i am really lost. Benar-benar hilang pegangan. Dan sampai aku tulis surat ini, aku masih bertanya-tanya apa maksud Tuhan memberiku hari terberat ini. Apakah mungkin Tuhan sedang menguji, seberapa sabar aku? Seberapa dewasa aku menghadapi semua ini?.

Byru,
Kau tahu bagaimana rasanya di matamatai? Lalu setelahnya orang yang mematamataimu itu menyimpulkan sepihak dari semua tindakan dan ucapanmu? Dan setelahnya semua tuduhan yang bertubi-tubi ia hujamkan kepadamu dengan membabibuta. Seolah semua analaisanya benar dan semua penjelasnmu adalah salah. Walau pada hakikatnya kau lebih tau segalanya dibanding si matamata itu. Itu yang kualami hari ini, Byru. Ternyata anak ABG pacar masalaluku itu selama ini mematamataiku di akun fesbukku. Dia menggunakan akun gaje dan menyusup ke frenlistku. Dia menggunakan cara itu karena akun dia yang asli aku restricted. Aku melakukan itu karena aku punya firasat dia berniat ga baik sama aku. Dan hari ini firasatku terbukti benar.

Byru,
Kemarin sudah kuceritakan kepadamu bahwa si ABG cemburu dan marahmarah ga jelas terhadapku dengan alasan yang aku sendiri tidak paham. Dan hari ini semua terjawab. Ternyata dia menuduhku macam-macam karena dia membaca semua postinganku tentang rindu yang kutujukan kepadamu. Aneh bukan, Byru. Ada orang yang berani mematamatai tapi ga siap dengan apa yang dia lihat, lalu membuat kesimpulan seenaknya.

Byru,
Sampai detik ini aku belum juga bisa menemukan sudut pandang yang terbaik dari semua yang kualami hari ini. Rasanya aku masih ga trima. Masih kecewa. Masih marah dan masih ga tau kenapa. Aku selalu ingat pesanmu untuk selalu tersenyum apapun yang dirasa, tapi rasanya aku belum juga bisa. Aku juga selalu mengingat pesanmu untuk melihat segala sesuatu bukan hanya dari satu sudut pandang saja. Tapi nyatanya aku juga belum bisa menemukan sudut pandang lain yang bisa membuatku merasa lebih baik.

Byru,
Aku meridukanmu. Aku berharap kamu ada saat ini. Menjadi pendengar setiap keluhku kesahku. Menjadi penerang pikiranku yang gelap. Menuntunku sampai aku menemukan sudut pandang yang terbaik. Aku membutuhkanmu, Byru. Sangat membutuhkanmu saat ini. Jika saja kamu masih ada.

Sad_Sad_Sad_Girl

Image
0

Kembali, Bagian #2

“Bagaimanapun sikapmu terhadapku. Diam, acuh, angkuh, cuek, atau ga mau ngomong sama aku sekalipun, itu semua ga akan menghalangiku untuk terus mencintai dan meyakinimu, Re. Karena aku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dibalik itu semua. Sesuatu yang sama seperti yang aku rasakan, mencintai dan merindukan”.

Aku masih tertegun memandangi layar laptopku. Membaca dengan seksama kata demi kata yang ditulis Arga di surat elektronik itu. Aku semakin tertegun membaca bagian terakhir isi surat itu. Antara sedih dan gembira. Antara ingin menangis atau tersenyum bahagia. Antara harus melupakan atau menerima dia kembali seperti dulu.

Jam digital di pojok kanan bawah laptopku sudah menunjukkan pukul 23.30. Dan aku masih saja dibuat bimbang oleh email yang selama beberapa jam ku baca berulang kali. Ingin rasanya aku membalas email itu. Menumpahkan segala yang kurasakan. Mengungkapkan semua rasa yang terus berkecamuk di dalam hatiku. Rasa yang bertahun-tahun kupendam dan terus kuingkari. Berharap pada saatnya nanti akan hilang seiring waktu berlalu.

“Seperti berlari-lari di dalam lingkaran, yang awalnya adalah akhir dan akhirnya adalah awal. Sejauh apapun aku berlari kembalinya selalu padamu. Serapat apapun aku bersembunyi, selalu mampu kau temukan kembali”.

Pukul 24.00 dan aku semakin frustasi dibuatnya. Telah kuputuskan untuk tidak membalas email panjang itu. Bukan karena aku benci, marah ataupun tak peduli terhadapnya,namun lebih karena aku tak bisa melawan bisikan di hatiku yang terus mengatakan bahwa aku harus melupakannya. Bahwa meninggalkannya adalah sebuah keharusan. Bahwa menjauh darinya adalah untuk kebaikan semua. Walau pada kenyataannya aku harus menyakiti diriku sendiri dan terluka. Lebih baik aku sakit karena rindu daripada harus bersamanya dan dia tidak bahagia bersamaku.

*

Hari – hari setelahnya aku lebih sering menghabiskan waktuku mengunjungi page fotografinya di fesbuk. Mengamati setiap geraknya di jejaring sosial terbesar itu dalam diam. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah melihat foto-foto postingannya. Foto-foto hasil perjalanannya keliling Indonesia. Senang rasanya melihat dia yang sedikit demi sedikit telah mewujudkan impiannya.

“impianku adalah keliling Indonesia. Pengen rasanya bisa mengexplor keindahan negeri kita. Mulai dari manusia-manusianya, adat istiadat dan budanya dan segala keindahan alamnya” bilangnya dahulu di suatu waktu ketika kami masih bersama

“wah bakalan sering traveling dunk kamu, say. Aku bakalan sering kamu tinggalin dunk, huft” keluhku

“enggak dunk, kan ntar kamu yang nemenin aku. Kita perginya bareng-bareng, say. Mau kan kamu terus nemenin aku?”  jawabnya dalam nada meminta

“siyaapppp deh kalo kaya gitu, say. Tapi say… ketika kamu pergi, aku lebih suka menunggumu pulang, sambil terus mendoakanmu agar perjalananmu lancar” bilangku

“Terimakasih, say” ucapnya lirih sambil mengecup kedua tanganku yang sedari tadi telah berada di genggaman tangannya.

Holding_Hands_by_knightrazor

Bersambung……

Image
0

Kembali, Bagian #1

“kenapa sih kamu mesti nyembunyiin perasaanmu. Kenapa harus ga jujur dan menyiksa diri sendiri gitu, Re?? Kenapa ga kamu lewati aja semua prosesnya bersama-sama dengan Arga. Toh kalian berdua saling sayang, masih single”  

Sudah seratus tiga puluh menit sejak aku meminum tegukan kopi terakhirku. Kalimat Daniel itu masih saja terngiang di kepalaku. Diantara lalu lalang manusia. Diantara obrolan dan gelak tawa mereka yang penuh sesak memenuhi coffe shop langgananku. Aku masih saja duduk terpaku di salah satu sudut coffe shop yang semakin sore semakin gaduh, persis seperti hati dan fikiranku yang masih saja saling berargumen. Antara meninggalknmu disana, mengubur semua kisah atau terus maju dan mengumpulkan segenap keberanian bersama-sama.

“kamu disini, Re?” ucap suara yang sangat ku kenal memecah lamunanku

“eh..kamu” ucapku gugup sembari melihat ke arah suara

“boleh aku temenin?” pintanya sambil melingkarkan senyum kecil di bibirnya

Aku hanya mengangguk ragu. Dan dia kini sudah duduk dihadapanku. Aku menunduk, tak memiliki keberanian memandangi dua mata tajam yang kini seperti menelanjangiku. Aku masih tak bergeming. Tak memiliki nyali menatap wajah yang sebenarnya tiap saat masih berputar-putar dikepalaku.

 “hhhhh…” suara helaan nafasnya yang dalam terdengar jelas di telingaku

“Re…” suara beratnya memanggil namaku memulai percakapan

“aku seneng banget akhirnya Tuhan mengabulkan doa-doaku, mempertemukan kita lagi disini. Senang bisa melihatmu lagi, Re” lanjutnya dalam nada bahagia

Dan untuk pertama kalinya, setelah sekian lama aku bisa mendengar secara nyata suara itu memanggil namaku lagi. Suara yang dulu sangat akrab denganku. Suara yang tiap saat masih terus berbisik di telingaku. Meyakinkanku betapa ia mencintaiku. Suara yang sebenarnya sangat kurindukan.

“aku kangen banget sama kamu, Re” ucapnya sendu

“Bertahun-tahun aku mencarimu, mencoba menemukanmu. Sampai terkadang aku putus asa” sejenak hening, hanya ada suara deru nafas.

“eh..gimana kabarmu, Re?” ucapnya dalam nada tanya

Setelah mengumpulkan segenap keberanian aku mencoba mengangkat wajahku. Mencoba menatap wajah itu. Wajah yang tiap kali muncul di mimpiku. Wajah yang tiap kali aku ingat dan kutangisi.

“baik..” bilangku singkat dalam nada gugup yang tak mampu ku sembunyikan

“syukurlah… senang mendengarnya” balasnya dengan mata berbinar

Aku mencoba mengalihkan pandanganku keluar jendela, menatap orang-orang yang berlalu lalang. Melihat ke arah jalan raya. Memperhatikan  mobil, motor, bus dan sebagainya yang berebut berada di tempat terdepan. Menatap jalanan yang gaduh, segaduh perasaan yang berkecamuk di hatiku. Antara rasa seneng, gugup, bingung dan aahhhh entahlah.

“Lu dimana, Re” bunyi BBM dari Daniel memecahkan kebekuan di hatiku

“Gue di Coffe shop biasa, lo jmput gue sekarang. Gue tunggu” balasku tergesa

“Re, aku masih sayang banget sama kamu. Dan aku pengen kita balik lagi kaya dulu. Terus bersama melewati apa saja” ucap Arga lagi seketika

“Degg..deg..deg…” bunyi detak jantungku semakin kencang

“Re, kamu mau kan kita bersama-sama lagi seperti dulu” ucapnya dalam nada tanya dan terdengar seperti memohon

Aku mulai gusar. Mencoba berlari. Mengalihkan pandanganku ke segala arah. Mencoba mencari Daniel yang tidak juga datang menjemputku.

“Re, tolong jawab aku” pintanya lagi dalam nada memohon

“Aku harus pergi, Ga” bilangku sambil melangkah meninggalkan meja tempat kami duduk. Yang segera diikuti Arga yang mencoba mengejarku dan menyahut tanganku.

“plisss, jangan pergi lagi, Re. Plisssss….” pintanya

Aku mencoba melepaskan genggaman tangannya. Dan berlari diantara kerumunan orang di coffe shop. Terus berlari membaur diantara gaduhnya lalu lintas kota yang semakin sore semakin macet. Diantara gerimis aku berlarian dengan tangis yang sesenggukan.

“maafin aku, Ga..” bisikku dalam hati

crowded_place_________by_dee666loy-d5fuqub

Bersambung…..

Image
0

Curhatanku

Selamat pagi, Byru
Bagaimana pagimu disana? Semoga selalu cerah ceria, bagaimanapun rupa cuaca hari ini. Semoga harimu selalu menyenangkan. Tercukupkan segala yang kau butuhkan. Selalu dalam lindungan dan ridhoNya. Amiinnn. Pagi ini, aku ingin sedikit mengadu kepadamu. Boleh kan ya?? Seperti dulu kau selalu dengan senang hati mendengarkan keluh kesahku,hihhi

Kemarin,  dengan tiba-tiba datang pacar dari teman masalaluku. Dengan penuh amarah dia menuduhku macam-macam. Dia begitu yakin dengan persepsinya bahwa aku masih peduli, sayang, dan berharap kembali kepada masalaluku. Entah atas dasar apa dia memiliki persepsi seperti itu. Padahal selama ini aku tidak pernah ataupun terbersit keinginan bersinggungan dengan masalaluku. Benar-benar tuduhan yang tidak berdasar, pikirku. Melihat emosinya yang seperti api menyala-nyala membakar segala yang ada, aku hanya tertawa. Lucu pikirku, bener-bener childish dan labil. Muncul rasa kasihan dihatiku. Pasti dia sangat terluka dan tersiksa oleh amarah dan kecemburuannya sendiri. Kecemburuan yang tidak lewat jalan.

“Kecemburuan, kemarahan, kebencian, dan semua pikiran negatif lainnya adalah sumber dari segala sumber penyakit. Yang hanya bisa disembuhkan dengan melepaskan semuanya”.

Byru,
Melihat anak itu dengan segala api kemarahn dan kecemburuan yang tidak berdasar tadi, aku seperti melihat diriku sendiri di waktu lalu. Kamu masih ingat waktu aku dengan sangat emosi melihatmu asik ngobrol dengan seorang anak yang dari kecil begitu mencintaimu?? Bego banget yah aku dulu, mau aja sakit cuma gara-gara rasa cemburu yang ga perlu. Padahal kamunya ga gimana-gimana sama anak itu. Masih inget banget kamu jadi ikutan marah sama aku karena aku ga percaya semua penjelasanmu. Maafin semua kebodohanku dulu yah.

“Segala hal yang kita alami adalah cara Tuhan menuntun kita untuk belajar. Melihat, mengamati, lalu memahami semua sebagai sebuah hikmah”.

Byru,
Banyak hal sudah terlewati. Banyak orang sudah kutemui. Banyak pelajaran sudah kudapat dari tiap pertemuan. Dan aku semakin yakin bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia. Dulu, kita dipertemukan juga pasti untuk sebuah alasan yang saat ini mungkin hanya Tuhan yang tahu. Terimakasih pernah menjadi bagian dari kisahku yah, Byru. Terimakasih telah mengajariku banyak hal yang membuatku menjadi aku yang sekarang.

emo-angel-boy-t5-1

Image
0

Dalam Diam

Dalam diam, kita saling mencipta jarak
mencoba lupa dan melepaskan

Dalam diam, diam-diam kita saling mengamati
mencoba membaca dan mengartikan setiap gerak

Dalam diam, diam-diam kita saling merindu
terus mengingat dan mendoakan

Dalam diam, kita tengah menunggu,
terus berharap bahwa pada saatnya akan datang keajaiban

Dalam diam, aku menjadi lebih dekat denganmu
sedekat dan sesering aku mendoakanmu

Pic by mono.tone on Tumblr

Pic by mono.tone on Tumblr