Image
0

Kembali, Bagian #3

“udaaahh..jangan dipandangin foto-fotonya aja. Terima kembali orangnya, baru oke” ledek Daniel  yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang tempat dudukku, di salah satu sudut coffe shop langganan kami.

“apa sih lu..”jawabku sewot

“gue cuma pengen liat temen gue ini bahagia. Kalau lu bahagia kan gue ga perlu sibuk-sibuk menghibur lu” ucapnya lagi sambil tergelak

“oooooo..jadi selama ini gue tu ngrepotin lu gitu. Okeeee…..ga lagi-lagi gue curhat sama lu,huuuhh” ucapku masih dalam nada sewot

“hahahaha….marah dia” ucapnya tergelak

Daniel menyesap kopi yang telah ku pesankan beberapa menit sebelum ia datang. Sambil sesekali memperhatikan aku yang masih asik dengan tablet dihadapanku.

“kenapa sih lu masih aja ga yakin sama cowo yang nyata-nyata masih sayang banget sama lu. udah nungguin lo sekian tahun. Terus sekarang kalian dipertemukan lagi. Jarang lho ada cowo kaya gitu, Re. Kalau gue jadi dia nih ya, gue udah ninggalin lu dari dulu” ucapnya kali ini dalam nada serius

“hmmmm…. gimana ya. Sebenernya gue bukannya ga yakin sama dia, Dan. Bukannya ga cinta sama dia. Tapiiii…. gue ga yakin pantes buat dia. Gue masih inget ucapan ibunya dulu. Kalau Arga itu keturunan darah biru. Ga pantes perempuan biasa kaya gue jadi pendamping dia” ucapku getir

“yaelah, Re. Hari gini masih mikirin darah biru, kuning, ijo, ato merah. Kalau cinta ya cinta aja. Ga perlu alasan lain. Ini tu tahun 2014 Masehi, Re. Bukan 2014 sebelum masehi. Ga usah mikirin nyokapnya setuju ato enggak. Yang terpenting Arga cinta sama lu, dan dia mau memperjuangkan cinta kalian. Sekarang tinggal elunya” ucapnya lagi kali ini lebih serius

“tapi masalahnya orang Solo kan emang kaya gitu, Dan. Mereka sangat peduli dengan bibit bebet bobot. Dan mengacu pada itu semua, aku tu sama sekali ga masuk kriteria mereka” jawabku

“bego lu…udah dibilangin, kalo cinta ya cinta aja. Tinggal kaliannya mau berjuang bersama-sama ato enggak. Kalau kalian mau berjuang bersama-sama, kalian pasti akan menang. Tapi kalau kamunya memilih kalah kaya sekarang ya nyokapnya Arga yang menang ”ucapnya berapi-api

Aku terdiam. Mencoba mencerna semua ucapan Daniel. Mengalihkan pandanganku ke jalanan di luar coffe shop. Mataku menerawang. Mengingat semua kebaikan Arga, kegigihannya, keyakinannya, kesabarannya dan cintanya yang tak pernah putus terhadapku.

*

“cinta itu kesabaran, keyakinan dan keberanian. Cinta itu tidak putus asa” begitu kira-kira kicau Arga di jejaring sosial twitter.

Membaca kalimat itu rasanya sedih. Ada nyeri didalam hatiku. Ingin rasanya aku menyerah dengan keangkuhanku dan berlari kepadanya. Berjanji untuk terus bersama-sama melewati apa saja. Mewujudkan mimpi-mimpi kami dahulu. Membuktikan pada ibunya bahwa cinta yang kami miliki lebih besar dari ketidak setujuannya.

love_by_toxiclovekid-d4ju4la

Bersambung….

 

Advertisements

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s