Image
4

Kembali, Bagian #4

Together_by_ti_dw

Picture from Deviantart

Hari ini, seperti yang telah ia janjikan, Daniel mengajakku ke sebuah pameran fotografi. Setelah melewati macetnya kota Jakarta yang teramat panjang, sampailah kami di sebuah gedung menjulang tinggi dengan hall yang sangat luas. Di setiap sudut ruangan bercat putih yang luas itu terpajang foto-foto dalam format black and white. Pameran yang bertajuk “Indonesia : manusia dan kebudayaan” itu menampilkan foto-foto yang bertema keberagam budaya bangsa Indonesia. Aku yang masih sangat awam dengan fotografi ini melihatnya dengan takjub.

“Weehh..kereennnn bangetttt nih, Dan” ucapku takjub

“Udaahh, biasa aja kale” balas Daniel sembari sibuk dengan smartphone di genggamannya

“Sibuk bener sih lo. Mau liat pameran foto apa mau BBM-an sih lo kesini? Heraannn deh gue” balasku sewot

“Sewot lo ah. Gue tu lagi hubungin temen gue. Gue kan udah janjian sama dia disini. Tapi kok belum keliatan juga batang hidungnya” balasnya lagi masih tetap sibuk dengan hp nya

“Yaudah, gue muter-muter duluan aja ye” jawabku

Semakin siang, semakin ramai. Semakin banyak orang berdatangan. Aku pun semakin asik mengamati tiap foto yang terpajang di ruangan ini. Tanpa Daniel aku mengamati foto demi foto yang ada, sambil sesekali mengalihkan pandanganku pada lalu-lalang orang-orang di ruangan ini. Mengarahkan lensa kameraku pada beberapa sudut yang menurutku unik dan memotretnya.

Diantara hiruk pikuk orang-orang yang saling berebut oksigen di ruangan ini, aku tertegun melihat pada satu sosok yang sangat ku kenal, Arga. Dia berada di salah satu sudut ruangan ini. Tengah asik berbincang sambil sesekali tertawa dengan salah seorang temannya. Selalu saja ada rasa yang tak bisa ku mengerti tiap kali aku melihatnya. Bahagia namun juga sedih pada saat bersamaan. Bahagia karena bisa melihat lagi sosoknya dan menyaksikan bahwa dia baik-baik saja. Sedih karena ketidakmungkinan yang ada diantara kami.

Melihatnya lagi saat ini, membawa ingatanku pada hari-hari di masalalu. Saat-saat ketika setiap hari aku bisa dengan mudah menyaksikan setiap geraknya. Mendengarkan suaranya. Menikmati tawa renyahnya. Lalu mengabadikannya di dalam ingatanku.

“Missyou, Ga” bisikku dalam hati

Dengan mata berkaca-kaca dan perasaan yang entah tak bisa kulukiskan dengan kata-kata, aku masih saja memperhatikannya dari kejauhan. Memotret setiap geraknya dengan lensa kameraku. Mengabadikannya disana, untuk suatu saat bisa ku buka lagi gambar-gambarnya ketika aku merindukannya.

“Woi..ngelamun aja lu” ucap Daniel yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku

Reflek aku menghadap kearahnya masih dengan air mata mengalir di pipiku

“Iih nangis dia. Baru gue tinggal sebentar udah nangis aja nih orang” lanjutnya lagi dalam nada mengejek

“Apa sih lo” balasku sembari mencoba menyeka air mataku

“Lo kenapa sih nangis?” tanya Daniel heran

“Ga papa” jawabku singkat

“Are you okay?” tanya Daniel lagi, kali ini dengan raut muka serius

Aku mengangguk mengiyakan bahwa aku baik-baik saja.

Aku kembali melangkahkan kakiku, mencoba menghindari Daniel agar dia tidak mengintrogasiku lebih detail lagi tentang alasanku menangis. Dan seperti dugaanku, Daniel kembali sibuk setelah salah seorang temannya menyapanya. Dari kejauhan kulihat mereka sama-sama tertawa, entah karena lelucon apa. Untuk menetralisir rasa sedihku, aku mencoba mengamati lagi foto-foto di ruangan ini. Kumati lagi satu persatu foto-foto yang terpajang di dinding bercat putih itu. Sampai pada akhirnya sebuah sentuhan di pundakku bersama suara yang sangat ku kenal memanggil namaku.

“Re…” suara beratnya memanggil namaku

Reflek aku menoleh ke arah suara. Dan di hadapanku sekarang sudah berdiri oarang yang sejak tadi kuperhatikan dan ku potret setiap geraknya dari kejauhan. Orang yang beberapa menit lalu sempat membuatku terisak karena mengingatkanku pada masalalu yang sudah tak bisa ku genggam lagi. Arga, dia di hadapanku sekarang dengan senyum mengembang di bibir tipisnya. Dari matanya bisa ku lihat ada binar bahagia disana.

“Senang bisa melihatmu lagi, Re..” bilangnya lagi dengan mata berbinar

Aku hanya tertegun. Hanya diam. Antara kaget dan bingung harus berucap apa. Seketika itu pula jantungku berdetak semakin kencang. Nervous, begitu mungkin kalimat yang pas untuk menggambarkan keadaanku.

“Kamu sendirian aja, Re??” tanyanya

“Iya..” jawabku singkat

“Kita duduk dan ngobrol-ngobrol yuk” ajaknya

“Maaf, Ga. Aku harus pergi” jawabku

“Pliss, Re. Jangan menghindar dariku lagi. Aku tahu kamu masih sangat peduli terhadapku. Aku tahu dari tadi kamu memperhatikanku. Berhentilah berpura-pura, Re. Jujurlah pada hatimu!” bilangnya dalam nada yang semakin tinggi

Aku mencoba memalingkan tubuhku. Melangkah meninggalkannya. Tapi dia terus mengejarku.

“Re, pliss. Kali ini aja” pintanya sembari mencoba menggenggam tanganku

Aku terus berjalan dalam langkah yang semakin cepat. Arga terus saja mengikuti di belakangku sembari menggenggam erat tanganku. Aku terus berjalan menjauh dari keramaian. Melangkahkan kakiku, meninggalkan hall yang luas itu. Lalu sampailah kami di halaman gedung. Dan Arga masih saja mengikutiku.

“Mau kamu apa, Ga?” tanyaku sembari menghentikan langkahku dan menghadap kearahnya

“Aku ingin kita kembali seperti dulu” jawabnya

“Untuk apa??? Semua udah ga ada gunanya. Semua udah berakhir, Ga” bilangku dengan suara serak karena menahan tangis

“Kita bisa memulai semuanya lagi dari awal, Re. Aku masih sangat menyayangimu” bilangnya lagi

“Lalu ibumu??” tanyaku lagi

“Kita harus berjuang bersama-sama untuk membuktikan bahwa rasa cinta yang kita miliki lebih besar dari ketidak setujuannya yang sangat tidak masuk akal itu. Kita harus berjuang bersama-sama untuk itu, Re” bilangnya dengan penuh kesungguhan, sambil terus menggenggam tanganku

Aku kembali hanya tertegun. Diam. Tidak tahu harus berkata apa lagi.

“Kamu mau kan, Re?? plisss!!” pintanya lirih sambil mencium kedua tanganku

Kutatap ke dua matanya. Ada air mata yang mengalir disana. Terus menderas membanjiri pipinya. Disana pula kulihat kesungguhan, keyakinan, keberanian dan cinta yang teramat besar. Dan tak ada lagi alasan bagiku untuk menghindar darinya. Karena hati kecilku telah berucap dengan tegas.

“Hadapi. Terima dia kembali!” Ucap hati kecilku tegas.

“Yang jatuh dan yang tumbuh,
Telah kembali bersama dalam dekap kehangatan
Kehidupan”

-Poem by Avivalyla-

T A M A T

Advertisements
Video
0

Blurry, And The Story Behind That

Duluuu banget. Di suatu hari beberapa tahun yang lalu. Jaman-jaman saya masih suka banget dengerin lagu rock (walaupun sampai sekarang masih suka sih). Waktu itu, saya dan pasangan saya kala itu, kami berdua suka banget sama salah satu lagu dari band rock Puddle Of Mudd yang berjudul Blurry. Hampir tiap hari dengerin lagu itu. Entah dulu karena alasan apa kami menyukai lagu itu. Lagu rock yang sebenarnya sangat melow. Saya tidak begitu apal liriknya. Hanya suka dengerin musiknya yang kerasa asik di kuping saya. Suatu waktu saya iseng tanya ke dia tentang isi dari lagu tersebut.

“lagu ini tu menceritakan tentang pasangan muda yang menikah. Memiliki seorang anak. Lalu karena berbagai pertikaian yang terjadi akhirnya mereka berpisah. Pada saatnya si anak yang sangat mereka sayangi harus ikut si ibu. Nha lagu ini tu menceritakan kerinduan si ayah yang terpisah jauh dengan anaknya. Sejauh apapun jarak mereka, rasa sayang si ayah ini akan selalu ada untuk anaknya. Begitu kira-kira ceritanya, Ndut” bilangnya di suatu waktu sambil cengengesan.

Malam ini saya iseng nyetel beberapa lagu rock jaman dulu. Dan muncullah lagu Blurry dari Puddle Of Mudd ini di suggest video yang saya putar. Karena saya memang masih tetap suka sama lagu itu sampai saat ini. Saya play-lah lagu itu. Dan untuk pertama kalinya saya menonton video lagu itu. And you know what…ternyata apa yang dikisahkan dia dulu itu sama persis kaya di videonya. Dan ajaibnya lagi, kisah lagu itu benar-benar menjadi kisah nyata. Kisah yang benar-benar kami alami hari ini.

Hidup memang tidak pernah bisa diprediksi. Kita tak akan pernah tahu kemana arusnya akan membawa kita. Semua kisah telah digariskan oleh Dia, sang maha menggenggam. Sedangkan kita, mahluk-mahluknya hanya bisa mengikuti semua skenario yang telah dibuatNya. Kita hanya bisa bilang “iya” atas semua takdir-takdirnya.

Here is the song. Blurry – Puddle Of Mudd

Image
0

Maka Diamlah!

IMG_2439967741306

Tak perlu lagi bertanya mengapa
Sebab semua tanya hanya akan berlalu
layaknya angin berhembus
Sekencang apapun ia mengemuka
tak akan pernah ada jawab

Tak perlu lagi berfikir ini ataupun itu
Sebab semua asumsi hanya tersisa asumsi semata
Hanya akan mengotori hati
menambah beban pikiran

Maka diamlah, cukup diam dan berlalu
Sebab semua telah terkunci rapat
hati, otak, gerak, begitupun mulut
Semua telah bisu

Berhentilah bertanya dan berfikir
tentang hal yang percuma
Sebab hidup ini terlalu singkat
untuk hanya sekedar berkutat pada satu titik saja

 

0

Waspada! Ekspektasi Tegangan Tinggi

Apel Hijau

Jangan berharap pada makhluk.

Sebuah kalimat yang menjadi begitu terdengar aneh dalam kepalaku belakangan ini. Manusia adalah tempat segala salah, khilaf dan segala kekurangan. Kalimat diatas merefleksikan sebuah aba-aba, agar tidak ada satupun di dunia ini yang menjadi tumpuan harapan kita. Karena apapun yang menjadi tumpuan, selain Allah swt, akan, pasti dan meyakinkan sekali memberikan rasa sakit. Entah itu sekarang, nanti, bulan depan, tahun depan, dan kapan saja. Atau bisa jadi dalam keadaan yang biasa saja atau keadaan diluar keadaan biasa.

Dulu, mamak juga pernah berbagi tentang cerita kehidupannya. Bahkan kepada suami-pun nanti, tidak boleh meletakkan segala harap. Karena tidak mungkin segala harap kita itu akan terkabul. Bahkan dalam taraf yang harapan-harapan standard pun, bisa jadi itu jadi sumber kekecewaan. Kemudian, bagaimana caranya seseorang membuat harapan 0% kepada orang lain? Misal kepada orang-orang terdekat, bagaimana caranya?

Pernah ada satu film korea yang tidak sengaja saya tonton (anggap saja agar saya…

View original post 416 more words

Image
0

Aku Rindu Pada Musim Semi

Picture from Deviantart

Picture from Deviantart

Aku rindu pada musim semi. Rindu pada hangatnya. Pada harum bunga-bunganya. Pada warna warninya. Pada cerah hari-harinya. Pada musim terindah di dalam hidup. Aku rindu pada musim semi yang membuatku lebih sering tersenyum bahagia. Lebih sering membuka mataku pada harapan. Membuat diriku mempercayai mimpi. Aku rindu pada musim semi, yang selalu memberiku kesempatan untuk terus menyaksikan senyummu yang mengembang, tawa renyahmu, binar di matamu.

Aku rindu pada musim semi, yang sekian lama telah hilang. Yang hanya terlihat seperti mimpi-mimpi di malam gelapku. Yang hanya terlihat samar-samar dari tempatku berdiri. Yang lebih terasa seperti tempat terjauh. Aku rindu pada musim semi. Yang untuk terakhir kalinya ku lihat wajahmu. Lalu selanjutnya kau berlalu seiring lambaian tanganmu di senja itu. Dan setelahnya kau menghilang selamanya di telan gelap malam.

Aku rindu pada musim semi. Yang hangatnya mungkin mampu menghancurkan kebekuan di dalam diriku. Aku rindu pada musim semi. Yang cahaya mataharinya mungkin mampu menghapus air mataku. Menerbangkannya ke langit membaur bersama gumpalan awan putih di atas sana. Aku rindu pada musim semi. Yang cerah hari-harinya mungkin mampu membuat diriku mempercayai harapan dan tersenyum menatap masa depan.

Aku rindu pada musim semi. Semoga saja ia segera datang. Aku sangat rindu pada musim semi. Semoga rindu ini benar-benar akan terjawab dengan sebuah pertemuan di masa depan.