Image
0

I Am Happy For You

Rain_by_noridomotomiriki

Hai Byru,

Aku tahu bagaimanapun cuacanya saat ini di kotamu, kau sedang sangat bahagia. Pada pagi, siang dan malam-malammu aku tahu kau sedang sangat bahagia. Aku tahu dan paham bahwa saat ini kau tengah menemukan semangat yang seperti dulu lagi, seperti empat tahun silam ketika Tuhan entah mengapa menakdirkan kita bertemu dan bersama dalam waktu yang begitu singkat. Bedanya sekarang kebahagiaan dan semangat itu tidak kita rasakan bersama-sama lagi. Kau berbahagia dan bersemangat bersama dia, gadis belia yang bisa kau saksikan geraknya setiap hari. Yang bisa kau tatap matanya tiap kali kalian berpapasan di tiap sudut kantormu. Yang bisa dengan bangga kau pamerkan kepada kedua orangtuamu tanpa ragu dan malu karena status dan masalalunya yang tidak suram sepertiku. Aku tahu dalam segala hal dia sangat lebih baik dariku. Mungkin segala ekspektasimu sudah terpenuhi pada perempuan baru itu. Selamat ya.

“i am happy for you”

Byru,

Tahukah kau bahwa dalam mencintai manusia memerlukan lebih banyak keberanian. Keberanian yang dibutuhkan mungkin lebih besar dari keberanianmu menghindari masalalumu. Dalam mencinta kau bukan hanya diam dan menceritakan segala yang kau rasa kepada kertas dan komputer melalui puisi dan coretan-coretan. Dalam mencinta manusia memerlukan keberanian untuk mengungkapkan dan setelahnya ada tanggung jawab lain yang harus dipenuhi sebagai wujud cinta yaitu mewujudkan segala ungkapan kata-katamu menjadi wujud nyata, tindakan. Karena yang ku tahu seindah apapun ungkapan cinta tanpa tindakan nyata itu sama dengan nihil. Dan ketika kau mencinta itu berarti kau juga sudah siap dengan segala resiko, bukannya pergi tanpa kata-kata karena ketidakberanianmu mengambil resiko yang ada.Kuharap kau tidak lagi menggunakan cara-cara lamamu. Kuharap nyalimu yang ciut dulu sudah hilang seiring perjalananmu selama empat tahun ini.

“To love is to risk. To love is to be brave” quote by anonymous

Byru,

Pada akhirnya aku hanya ingin mengucapkan selamat kepada mu. Selamat karena Tuhan lebih dulu mempertemukanmu dengan perempuan impianmu. Semoga pada saat yang sama ini pula, Tuhan juga berbaik hati memberimu lebih banyak nyali agar kau menjadi laki-laki yang sebenarnya. Bukan pengecut yang lari setelah begitu banyak berkata-kata. KepadaNya selalu kulangitkan doa atas kebahagiaanmu, karena bahagiamu masih menjadi bahagiaku seperti bilangku padamu dahulu. Selamat mewujudkan mimpimu, Byru. Hanya tinggal sejengkal langkah. Yang kau butuhkan hanya keberanian. Maka menjadilah berani!

Image
0

Iris, And I’d Give Up

And let the song tell the story when your words can’t describe what you feel right now…

And I’d give up forever to touch you
‘Cause I know that you feel me somehow
You’re the closest to heaven that I’ll ever be
And I don’t want to go home right now

And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
And sooner or later it’s over
I just don’t wanna miss you tonight

And I don’t want the world to see me
‘Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s meant to be broken
I just want you to know who I am

And you can’t fight the tears that ain’t coming
Or the moment of truth in your lies
When everything feels like the movies
Yeah you bleed just to know you’re alive

And I don’t want the world to see me
‘Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s meant to be broken
I just want you to know who I am

Image
0

Permainan Jadul

MyLikes0204-01

Anak-anak bermain lompat tali di halaman sekolah (foto rere)

Jaman saya kecil dulu ada begitu banyak permainan tradisional yang biasa saya mainkan bersama teman-teman. Dulu saya begitu menyukai permainan seperti petak umpet, bongkar pasang, rumah-rumahan, lompat tali, masak-masakan, bekelan, patahan, dan masih banyak lagi. Semua permainan itu benar-benar sangat tradisional, simpel dan indonesia banget. Dari semua permainan itu saya paling suka dengan bekelan. Biasanya saya memainkan permainan bekelan di teras depan rumah bersama beberapa teman kecil saya.

permainan-jadul_6

Picture from google

Permainan bekelan ini dimainkan menggunakan sebuah bola bekel dan paling sedikit lima buah biji bekel berbentuk logam. Ada yang terbuat dari kuningan, ada pula yang terbuat dari bahan timah. Permainan ini dilakukan dengan cara menyebar seluruh biji bekel dan melempar bola keatas dan menangkapnya setelah bola memantul di lantai. Kalau bola tidak tertangkap atau memantul beberapa kali maka pemain dinyatakan mati dan harus bergantian dengan teman mainnya.

Di jaman modern seperti sekarang ini sudah jarang atau bahkan sudah tidak ada anak-anak kecil yang memainkan permainan tradisional seperti itu. Saya bahkan tidak yakin bahwa masih ada anak-anak jaman sekarang yang mengenal permaian-permainan tadi. Di era cyber seperti sekarang ini anak-anak lebih menyukai dan mengenal game-game komputer seperti Angry Bird, atau game-game playstation yang kian marak menenggelamkan permainan-permainan tradisioanal. Sangat disayangkan memang bahwa permainan-permainan tadi hilang begitu saja.

Photo0691

Salah satu foto hasil masak-masakan (foto rere)

Beberapa hari lalu saya menemukan beberapa anak di sekolah baru tempat saya mengajar masih ada yang memainkan salah satu permaian tradisional tadi, yaitu masak-masakan. Saya melihat anak-anak tersebut dengan asiknya mengiris daun-daun, bunga warna merah dan buah nangka muda untuk dijadikan sayur dan dimasak (masak-masakan). Tanah liat sebagai nasinya dan air putih yang entah dicampur apa sehingga berwarna coklat menyerupai air teh. Sedangkan peralatan masak-masakan tersebut seperti piring-piringan, gelas-gelasan, sendok dan lain sebagainya mereka bawa dari rumah. Benar-benar niat memainkan permainan ini, pikirku.

Dalam hati ada rasa senang juga bahwa ada beberapa anak yang masih dengan setia memainkan permainan tradisional tersebut. Sayang banget kalau permainan-permaian tersebut cuma tinggal ceritanya saja atau bahkan dilupakan begitu saja. Karena sejatinya permainan-permainan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia itu kaya akan ragam budayanya.

Image
0

Dia, Tujuh Belas Tahun Kemudian

Alone_by_homigl14

Picture from Deviantart.com

Dia tumbuh, tumbuh, tambah tumbuh
Dan kini sudah jadi seorang gadis seperti kamu, cantik
Tapi dia tidak mampu tersenyum, bahkan dalam hati

Setiap hari dia pelajari hal-hal baru
Misalnya, cara-cara sederhana meluapkan kebahagiaan

Setiap hari dia juga pelajari kembali hal-hal lama
Misalnya, cara-cara sederhana melupakan kesedihan
Dalam hidupnya, keduanya sama-sama penting

Dia tumbuh, tumbuh, tambah tumbuh
Dan kini sudah jadi seorang gadis seperti kamu, manis
Tapi dia tidak mau menangis, bahkan dalam hati

Setiap malam dia katakan pada ibunya
:“jangan terlalu banyak menangis, ibu, aku tak tahu berenang.”
Setiap malam ia bertanya kepada Tuhan
:“aku mencintai masa kecil dan kehidupan, tapi kenapa dirusak orang?”

 

Note :
Salah satu puisi yang menurut saya ngena banget. Saya dapet puisi tersebut dari website seorang teman yang sayangnya sekarang udah ditutup. Puisi tersebut bukan karya teman saya. Dan sayangnya lagi saya lupa nama penulis puisi tersebut. siapapun penulisnya, saya mohon ijin untuk posting di blog saya. Makasih 🙂

 

Image
2

Kepada Dia Yang Sangat Mencintai Buku

going__going____gone__by_ozzwizard

Picture From Devianart.com

Hari itu, 16 Pebruari 2016 sebuah kabar duka sampai kepadaku lewat status seorang teman di Blackberry Messenger. Kabar tentang berpulangnya seorang teman yang kukenal sangat baik. Ia yang semasa hidupnya sangat mencintai buku. Ia yang telah mewujudkan mimpinya untuk membangun perpustakaannya sendiri. Ia yang begitu asik membagi pengetahuannya dengan anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan simbah-simbah di kampung tempat ia tinggal melalui buku-buku di perpustakaan rumahnya. Ia yang pada suatu waktu di dalam hidupnya pernah begitu antusias bercerita kepadaku tentang pencapaian-pencapaian di dalam hidupnya melalui buku-buku dan perpustakaan pribadinya. Ia yang pada suatu ketika pernah berkisah tentang awal mula kecintaannya pada buku dan membaca.

“dari uang saku yang aku kumpulkan aku membeli buku pertamaku” begitu bilangnya suatu waktu

“setelah lulus SMA aku merantau ke Jakarta. Setiap minggu ketika aku libur, aku selalu pergi ke toko buku atau ke tempat diadakannya bazar buku. disana aku bisa mendapatkan buku-buku yang aku suka” lanjutnya

“semakin lama buku-buku koleksiku semakin banyak. Lalu ketika aku kembali ke kampungku, aku mempunyai impian untuk membangun perpustakaan di rumah. Setelah melalui perjuangan akhirnya jadilah perpustakaan ini” ucapnya sumringah

Seperti baru kemarin percakapan tiga tahun yang lalu itu terjadi. Percakapan yang ternyata menjadi percakapan panjang kami yang terakhir. Setelah kepindahanku ke tempat kerjaku yang baru, kami tidak lagi sering bertemu. Hanya sesekali berkabar lewat Whatsapp chat. Terakhir ku dengar bahwa Kanker mulai menggerogoti tubuhnya. Beberapa kali Kemo terapi dan pengobatan alternatif ternyata hanya mampu menyambung hidupmu sampai Pebruari tahun 2016 ini. Dan kisah hidupnya usai sampai 16 Pebruari 2016. Singkat sekali memang. Kau telah kembali ke haribaannya di usia yang cukup muda. Mengutip salah satu quote dari Byru :

“Semua terjadi seperti sebagaimana semua harus terjadi”

Benar bahwa semua yang telah digariskanNya pasti akan terjadi. Kapan waktunya hanya Dia yang tahu. TakdirNya adalah sebuah keniscayaan. Tidak mempedulikan siap tidaknya dirimu. Ataupun rela tidaknya dirimu. Namun dalam setiap segala sesuatu yang terjadi aku meyakini bahwa Dia tengah mengajarimu ilmu ikhlas dan sabar.

Selamat jalan, kawan. Semoga perjalanan barumu disana selalu diberi kelancaran dan kemudahan. Terima kasih untuk semua kebaikan dan kenangan indah yang pernah kita buat bersama. Mendoakanmu adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan sekarang. I’ll always miss you.