Image
2

Kepada Dia Yang Sangat Mencintai Buku

going__going____gone__by_ozzwizard

Picture From Devianart.com

Hari itu, 16 Pebruari 2016 sebuah kabar duka sampai kepadaku lewat status seorang teman di Blackberry Messenger. Kabar tentang berpulangnya seorang teman yang kukenal sangat baik. Ia yang semasa hidupnya sangat mencintai buku. Ia yang telah mewujudkan mimpinya untuk membangun perpustakaannya sendiri. Ia yang begitu asik membagi pengetahuannya dengan anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan simbah-simbah di kampung tempat ia tinggal melalui buku-buku di perpustakaan rumahnya. Ia yang pada suatu waktu di dalam hidupnya pernah begitu antusias bercerita kepadaku tentang pencapaian-pencapaian di dalam hidupnya melalui buku-buku dan perpustakaan pribadinya. Ia yang pada suatu ketika pernah berkisah tentang awal mula kecintaannya pada buku dan membaca.

“dari uang saku yang aku kumpulkan aku membeli buku pertamaku” begitu bilangnya suatu waktu

“setelah lulus SMA aku merantau ke Jakarta. Setiap minggu ketika aku libur, aku selalu pergi ke toko buku atau ke tempat diadakannya bazar buku. disana aku bisa mendapatkan buku-buku yang aku suka” lanjutnya

“semakin lama buku-buku koleksiku semakin banyak. Lalu ketika aku kembali ke kampungku, aku mempunyai impian untuk membangun perpustakaan di rumah. Setelah melalui perjuangan akhirnya jadilah perpustakaan ini” ucapnya sumringah

Seperti baru kemarin percakapan tiga tahun yang lalu itu terjadi. Percakapan yang ternyata menjadi percakapan panjang kami yang terakhir. Setelah kepindahanku ke tempat kerjaku yang baru, kami tidak lagi sering bertemu. Hanya sesekali berkabar lewat Whatsapp chat. Terakhir ku dengar bahwa Kanker mulai menggerogoti tubuhnya. Beberapa kali Kemo terapi dan pengobatan alternatif ternyata hanya mampu menyambung hidupmu sampai Pebruari tahun 2016 ini. Dan kisah hidupnya usai sampai 16 Pebruari 2016. Singkat sekali memang. Kau telah kembali ke haribaannya di usia yang cukup muda. Mengutip salah satu quote dari Byru :

“Semua terjadi seperti sebagaimana semua harus terjadi”

Benar bahwa semua yang telah digariskanNya pasti akan terjadi. Kapan waktunya hanya Dia yang tahu. TakdirNya adalah sebuah keniscayaan. Tidak mempedulikan siap tidaknya dirimu. Ataupun rela tidaknya dirimu. Namun dalam setiap segala sesuatu yang terjadi aku meyakini bahwa Dia tengah mengajarimu ilmu ikhlas dan sabar.

Selamat jalan, kawan. Semoga perjalanan barumu disana selalu diberi kelancaran dan kemudahan. Terima kasih untuk semua kebaikan dan kenangan indah yang pernah kita buat bersama. Mendoakanmu adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan sekarang. I’ll always miss you.

Advertisements
Image
0

Tentang Arin

arin erna

Namanya Arin. Dia adalah salah satu siswa di sekolah tempat saya mengajar. Dia duduk di kelas satu. dia termasuk anak yang cerdas dan memiliki bakat menggambar yang bagus. Dia tidak terlalu banyak bicara seperti anak – anak yang lainnya. Tapi ketika berada di dekat saya, maka dia akan banyak bercerita tentang apa saja. Mimpi – mimpinya, keluarganya, atau apa saja yang dialaminya. Dia juga akan menanyai saya tentang banyak hal, meminta saya bercerita tentang masa kecil saya dan sebagainya. Saya sangat menyukai dandanan rambutnya yang unik. Dua kuncir yang unik di kepalanya dengan poni rata menutupi jidatnya membuatnya terlihat sangat manis.

Melihat Arin, saya seperti melihat diri saya sendiri sewaktu kecil. Mata bulatnya, pipinya yang chubby dan poninya selalu mengingatkan saya pada masa kecil saya. Dulu, ibu selalu memotong rambut saya seperti model rambut Arin sekarang. Waktu kecil saya juga termasuk anak yang tidak banyak bicara seperti Arin. saya juga suka menggambar seperti dia. Tapi setelah dewasa entah kemana hilangnya bakat menggambar itu. Kadang saya rindu ingin menggambar seperti dulu.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kertas sederhana bertuliskan Arin sayang buguru darinya. Lalu keesokan harinya dia memberiku setangkai bunga mawar merah yang masih sangat segar, manis sekali. Saya selalu ingat ekspresi wajahnya yang malu – malu ketika memberikan kertas itu, yang saya sebut sebagai surat cinta dari Arin.

Terimakasih yah, Arin sayang. Buguru juga sangat menyayangi Arin. Tetaplah menjadi anakmanis yang menyenangkan. Loveyou.

Image
0

Tentang Kepergian

Oktober kali ini membawa banyak cerita duka. Cerita tentang kepergian. Tetang merelakan sesuatu yang masih ingin ku dekap erat. Tentang malam – malam nya yang diliputi dengan hujan membadai. Hujan yang disertai angin kencang dan petirnya yang menyambar – nyambar. Yang merobohkan banyak pohon di sekeliling rumahku. Oktober kali ini mengajariku tentang ketegaran. Tentang adanya takar waktu dalam setiap pertemuan. Bahwa ketika Tuhan menciptakan pertemuan maka Ia juga menciptakan perpisahan.

Masih segar dalam ingatanku tentangmu. Saat kita masih bocah berkepang dua. Bermain petak umpet di sekitar rumah. Memanjat pohon dan berlarian di pinggiran sawah sambil bermain layang – layang. `sangat riang dan tanpa beban. Menyenangkan ya masa – masa itu. Pertemuan terakhir kita adalah beberapa bulan lalu. Kau begitu anggun menggendong anakmu yang masih berumur beberapa bulan. Kau semakin terlihat layaknya perempuan dewasa. Tak banyak percakapan antara kita. Karena pertemuan itu begitu singkat.

Hari ini 29 oktober 2011, kabar duka itu sampai di telingaku. Kabar tentang berpulangnya dirimu. Itu berarti kau akan pergi selamanya. Kau akan berada pada dimensi yang berbeda denganku. Sesak rasanya aku mendengar kabar itu. Tak percaya rasanya. benar memang bahwa kematian adalah rahasiaNya. Kita manusia tak pernah tahu kapan datangnya.

Tapi mengiklaskan semua sepertinya adalah pilihan yang terbaik. Karena dengan begitu kau bisa pergi dengan tenang. Tak peduli seberapa jauh jarak anatara kita, kau akan selalu ada dalam setiap doa – doa ku. Selamat jalan kawan. Aku menyayangimu.

after the rain