Image
0

Cinta Pertamaku Yang Bertepuk Sebelah Tangan

dalam-diam

Hari itu aku pertama kali melihatnya. Dia sedang mengobrol dengan mas Aria begitu asiknya. Mereka terlihat sangat akrab. Sesekali tawa mereka pecah memenuhi ruang kantin yang masih sepi pagi itu. Aku terperanjat melihat keakraban mereka. Melihat mas Aria yang begitu pendiam bisa tertawa lepas dengannya. Sesaat aku memperhatikan wajah perempuan itu. Wajah yang masih asing bagiku. Seraut wajah yang tiba – tiba menghentikan langkahku untuk mendekat ke tempat mas Aria duduk pagi itu. Wajah yang tiba – tiba saja tidak aku sukai dan sekaligus membuatku penasaran. “sapa sih perempuan centil itu?” batinku.

Seharian itu hatiku dipenuhi tanda tanya akan sosok perempuan itu. Perempuan yang dengan hebatnya bisa membuat mas Aria yang super pendiam menjadi banyak ngomong dan bisa tertawa. Bahkan ia mampu mengalahkan aku yang telah bertahun – tahun dekat dengannya. Ia pula yang telah menciutkan harapanku untuk terus bermimpi tentang suatu hari dengan mas Aria. Jika saja aku memiliki cukup kekuatan ingin rasanya aku melenyapkannya dari pikiran mas Aria agar tak kutemukan lagi jejak – jejaknya pada lembar – lembar kisahku yang ingin kurajut bersama mas Aria.

Pada suatu senja di tepian pantai dengan lengkung langit yang berwarna keemasan, aku kembali mendapati pemandangan yang menyesakkan dada. Yaahh..mereka lagi. perempuan itu sedang duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu mas aria. Hal yang selama ini aku impikan bisa ku lalui dengan mas Aria, namun belum sempat menjadi nyata. Hatiku kembali hancur berkeping. Airmata ini kembali menganak sungai. Aku hancur untuk kesekian kali.

Telah banyak hari yang kulewati bersama mas Aria. Aku telah bertumbuh bersama dia. Dari semenjak aku bertemu dengannya ketika aku masih bocah berkepang dua, aku sudah merasa nyaman berada disampingnya. Dia orang pertama yang mampu menggetarkan hatiku. Membuatku berani bermimpi dan memiliki harapan. Dia yang selalu mampu menjawab banyak tanya yang tak mampu kutemukan jawabannya. Dia pula yang selalu ada ketika aku memintanya untuk menemani hari – hari sepiku. Untuk sekedar mengobrol hal – hal sepele atau berdiskusi tentang apa saja. Dia adalah masa depanku. Rumah yang akan kutuju. Mimpiku kala itu.

Tapi perempuan itu telah memupus semua mimpi itu. Mimpi yang bertahun – tahun telah kurajut pelan – pelan dengan penuh kesabaran. Aku sangat membenci perempuan itu. Aku benci dengan wajah cantiknya yang membuat mas Aria tak bisa melupakannya. Aku benci dengan obrolannya yang selalu mampu membuat mas Aria betah duduk disampingnya. Aku juga benci pada joke – joke nya yang selalu mampu membuat mas Aria bisa tertawa lepas bersamanya. Aku memang telah kalah untuk menjadi yang pertama di hati mas Aria. Dan aku harus puas hanya dengan dianggapnya sebagai adik.

“Mimpiku adalah menjadi hal terakhir yang kau pikirkan sebelum kau terlelap dalam tidurmu. dan menjadi hal pertama yang kau ingat ketika kau terbangun esok pagi. Aku jugalah yang menghiasi mimpi-mimpi malammu. Lalu kenyataannya aku bukanlah orang yang kau catat dalam sejarah hidupmu. aku hanya orang yang dengan tak sengaja kau temui di jalan, lalu setelahnya kau tak akan mengingatnya”

Advertisements
Image
0

Kepada Byru

IMG_1475479009917

Dear Byru,
Kamu tidak akan pernah tahu kemana aliran sungai takdir akan membawamu. Kamu bisa saja merencanakan semua hal yang indah dan begitu sempurna untuk hidupmu, namun tetap saja pada akhirnya kita manusia hanya akan tunduk dan kalah pada skenarioNya. Semua yang kamu jalani telah diaturNya, ketika Dia telah menetapkan segala sesuatu maka tak kan ada yang bisa membantahNya. Seperti bilangmu, “semua terjadi seperti sebagaimana semua harus terjadi”.

Byru,
aku masih ingat semua rencana kita dahulu. Melangsungkan pernikahan yang indah seperti di negeri dongeng, dengan dekorasi pelaminan yang penuh bunga-bunga seperti impianku. Baju adat Jawa basahan adalah yang kita pilih untuk pesta meriah yang kita rencanakan. Lalu setelahnya seperti rencanamu kita akan berbulan madu ke kota impianmu, Venice Italy.

aku ingin memiliki sebuah rumah sederhana yang nantinya akan kita huni bersama anak-anak kita” bilangmu suatu ketika

lalu, apa impianmu setelah memiliki rumah?”  tanyaku

“aku ingin sampai di rumah saat senja, supaya kita bisa menikmati senja di beranda sambil meminum teh hangat kesukaan kita” jawabmu

Byru,
Masih sangat jelas didalam ingatanku ketika kamu bercita-cita mempunyai seorang anak yang akan aku kandung di dalam rahimku.

“aku ingin dia perempuan, biar cantik sepertimu” bilangmu di senja itu

“Lyla” lanjutmu

Aku hanya mengernyitkan dahi menanggapi ucapanmu

“iya, bocah kecil itu nantinya ingin aku beri nama Lyla” lanjutmu lagi

Kali ini aku hanya tersenyum menanggapi ucapanmu. Lalu kamu mendekatiku dan mencium lembut keningku.

Byru,
indah sekali yah mimpi-mimpi kita dahulu. Sampai kita tidak menyadari bahwa dalam setiap kemungkinan selalu ada ketidakmungkinan. Bahwa ada tangan Tuhan dalam setiap rencana-rencana kita, dan apa yang menjadi kehendak Tuhan belum tentu sama dengan mimpi-mimpi kita.

Byru,
Dimanapun kini kau berada, aku berharap kau selalu bahagia. Bagaimanapun bentuk kehidupan barumu kini “jangan lupa untuk selalu tersenyum” seperti pesanmu dahulu sebelum pada akhirnya kabut putih menghalangi pandanganku untuk hanya sekedar menatap bening dua matamu dan senyum kecil yang tiap kali akan kau pamerkan setiap kita bertemu. Selamat jalan, Byru. Doaku selalu menyertaimu.

 

Dari aku yang masih dan akan selalu merindukanmu, Senja.

Image
0

Selamat Ulang Tahun, Pangeran Kecilku

our_garden_by_kandasama-d4pwluf
Halo apa kabar, kamu? Lama yah kita tidak bertukar kabar. Sudah berapa lama yah kira – kira? Aku sampai lupa kapan terakhir kita berbincang. Tahukah kamu bahwa aku sangat merindukanmu? Aku merindukan waktu yang telah kita habiskan bersama di suatu masa lalu. Aku merindukan memandangi wajah kecilmu yang begitu manis. Merindukan tawamu. Merindukan senyummu. Merindukan obrolan – obrolan kita seperti sore itu.
Hey..masih ingatkah kamu pada lengkung langit berwarna keemasan yang tiap sore kita pandangi bersama – sama di tepi pantai itu? Pada pasir putih yang kita pijak. Pada ombak lautan. Pada camar – camar yang berkejaran. Pada kita di suatu masa lalu.
Hari ini adalah tujuh belas tahun pertamamu. Angka dalam hitungan umur yang selalu di tunggu – tunggu dan wajib di rayakan bagi sebagian orang. Entah apa yang spesial dari angka itu, aku pun tak pernah mengerti alasannya. Tapi bagiku tujuh belas tahun itu sama saja seperti angka – angka lainnya. Aku mengingat hari ini karena hari ini adalah hari ulang tahunmu. Dan kebetulan hari ini kau telah menginjak angka itu. Yaaa… istilah kerennya sweet seventeen.
Seperti 31 januari yang telah lalu, aku masih selalu mengingatnya. Menulis ucapan selamat ulang tahun. Merangkainya dalam kata – kata yang indah. Melangitkan doa – doa dan harapan – harapan yang terbaik untuk kehidupanmu. Bedanya sekarang aku hanya menyimpannya dalam folder – folder di dalam laptopku atau meng-upload nya di blog pribadiku. Sedangkan dulu aku masih bisa menyerahkan tulisan itu padamu. Menyelipkannya dalam kado sederhana yang ku hadiahkan buatmu. Tapi tahukah kau bahwa ritual ini masih tetap menyenangkan untukku?.
Ribuan jarak yang memisahkan kita hari ini telah menjadi jarak terjauh yang tak mungkin tertempuh olehku. Hari ini kau telah berada di suatu tempat yang pernah menjadi tempat impian kita dulu. Tempat dimana pohon berdaun empat warna. Tempat dimana air menjadi es. Dimana hujan kadang jatuh menjadi butiran-butiran dingin bernama salju.
Hari ini delapan tahun yang telah berlalu kita mengucapkan selamat tinggal. Melambaikan tangan dan kau berlalu dalam rinai hujan sore itu. Bersama tangisku yang sesenggukan. Aku masih ingat janjimu hari itu. “jangan menangis, aku pasti kembali dan kita bisa bermain bersama lagi. aku Cuma sebentar kok perginya” ucapmu menghiburku. Lalu senyum itu mengembang di wajah kecilmu. Senyum terakhirmu yang bisa ku lihat dan masih selalu ku ingat tiap kali aku merindukanmu.
Selamat ulang tahun, pangeran kecilku. Aku mendoakan semua yang terbaik untukmu. Aku masih bermimpi untuk suatu saat kita bisa bertemu kembali. Memandangi lengkung langit yang sama di pantai ini. Mendengarkan kisah – kisahmu. Dan membangun istana pasir kita lagi seperti sore itu.
“Setiap aku rindu padamu akan kutuliskan satu cerita untukmu
Agar aku tahu kelak ketika aku tak tahu lagi bagaimana cara merindukanmu
Aku tahu bahwa sebagian dari perjalanan hidupku pernah merindukanmu..”
Dari aku, Bintang kecil
yang masih dan akan selalu merindukanmu.
Image

Someday We’ll Know

“90 miles outside Chicago
Can’t stop driving I don’t know why
So many questions I need an answer
Two years laterYou’re still on my mind…”

Pernahkah kamu menyempatkan untuk bertanya kenapa kita harus bertemu? Kebaikan atau kesalahan di masa lalu yang mana yang menakdirkan kita akhirnya harus saling bertemu? Kenapa aku harus duduk di depan bar itu, memesan kopi yang ketiga, sampai kemudian kamu datang dan menyapa? Kenapa aku harus berkunjung ke kantormu lalu kita berbagi oksigen di dalam tabung lift yang sama, sampai berkali-kali?

Lalu, pernahkah kamu bertanya, mengapa kita harus berpisah? Mengapa setelah semua kebetulan-kebetulan kecil yang akhirnya mengantarkan kita berdua di sebuah kafe dan saling menyapa, menukar nomor telepon, dan berjanji untuk bertemu seminggu kemudian, tapi kita malah memutuskan untuk saling menempatkan jeda? Mengapa setelah kita bersusahpayah membangun our castle of sand, lalu kamu berubah menjadi seperti ombak yang menjilati pinggiran pantai; meruntuhkan istana pasir kita dalam sekejab saja?

I can’t stop asking all those questions. Kenapa kita harus bertemu, lalu berpisah? Kenapa kita hanya diberi jatah sebanyak seratus tiga puluh dua hari saja untuk menikmati cinta yang merah muda, lalu kebahagiaan itu direnggut terpaksa?

Sambil menikmati secangkir kopi, di pantry kantor, sahabatku pernah bilang, “You’ll never know the answers. You’re living the answers. Hidup lo nanti, adalah jawaban dari segala pertanyaan-pertanyaan ‘kenapa begini, begitu’ lo itu.”

Dia benar. Setelah semua ini usai, harusnya aku tahu kenapa kita dulu harus bertemu untuk kemudian berpisah tak lama setelah itu. Setelah semua ini usai, aku akan tahu kenapa dunia susah payah berkonspirasi untuk mempertemukan kita lalu mengacaukan semuanya. Ya, setelah semua ini usai, katanya, aku bakal tahu.

Tapi, itu kalau ‘usai’. Bagaimana kalau sampai hari ini aku tidak pernah merasa ‘usai’ denganmu?

“Someday we’ll know if love can move a mountain
Someday we’ll know why the sky is blue
Someday we’ll know why I wasn’t meant for you

Someday we’ll know why Samson loved Delilah
One day I’ll go dancing on the moon
Someday you’ll know that I was the one for you…” 

Masih kubaca email-emailmu. Masih kudengarkan CD kompilasi lagu-lagu favoritmu, yang tiap kali kau hadiahkan untukku.

Masih kulihat film Serendipity kesukaanmu, sekadar untuk mengulang kebersamaan kita di depan televisi apartemenmu, di suatu masa lalu.
Masih nelangsa saat tahu kamu menangisi perpisahan kita, waktu itu.

Masih kulakukan semua kebiasaan yang tidak membawaku beranjak dari masa lalu. Like doing some traveling to the future with you inside my suitcase. Aku seolah ingin berlalu, tapi masih mengajakmu di dalam setiap jengkal ingatanku.

Jadi, kapan bisa kujawab pertanyaan itu? That someday I’ll know why I wasn’t meant for you? That someoday you’ll know that I was the one for you? Kalau kamu masih tinggal di setiap jengkal hidup dan ingatanku
Kalau kamu masih menjadi segalanya untukku?

d43bcf622b37dc84352fc7211337ff11

a song someday we’ll know by Mandy Moree from A walk to remember the movie