Image
0

Permainan Jadul

MyLikes0204-01

Anak-anak bermain lompat tali di halaman sekolah (foto rere)

Jaman saya kecil dulu ada begitu banyak permainan tradisional yang biasa saya mainkan bersama teman-teman. Dulu saya begitu menyukai permainan seperti petak umpet, bongkar pasang, rumah-rumahan, lompat tali, masak-masakan, bekelan, patahan, dan masih banyak lagi. Semua permainan itu benar-benar sangat tradisional, simpel dan indonesia banget. Dari semua permainan itu saya paling suka dengan bekelan. Biasanya saya memainkan permainan bekelan di teras depan rumah bersama beberapa teman kecil saya.

permainan-jadul_6

Picture from google

Permainan bekelan ini dimainkan menggunakan sebuah bola bekel dan paling sedikit lima buah biji bekel berbentuk logam. Ada yang terbuat dari kuningan, ada pula yang terbuat dari bahan timah. Permainan ini dilakukan dengan cara menyebar seluruh biji bekel dan melempar bola keatas dan menangkapnya setelah bola memantul di lantai. Kalau bola tidak tertangkap atau memantul beberapa kali maka pemain dinyatakan mati dan harus bergantian dengan teman mainnya.

Di jaman modern seperti sekarang ini sudah jarang atau bahkan sudah tidak ada anak-anak kecil yang memainkan permainan tradisional seperti itu. Saya bahkan tidak yakin bahwa masih ada anak-anak jaman sekarang yang mengenal permaian-permainan tadi. Di era cyber seperti sekarang ini anak-anak lebih menyukai dan mengenal game-game komputer seperti Angry Bird, atau game-game playstation yang kian marak menenggelamkan permainan-permainan tradisioanal. Sangat disayangkan memang bahwa permainan-permainan tadi hilang begitu saja.

Photo0691

Salah satu foto hasil masak-masakan (foto rere)

Beberapa hari lalu saya menemukan beberapa anak di sekolah baru tempat saya mengajar masih ada yang memainkan salah satu permaian tradisional tadi, yaitu masak-masakan. Saya melihat anak-anak tersebut dengan asiknya mengiris daun-daun, bunga warna merah dan buah nangka muda untuk dijadikan sayur dan dimasak (masak-masakan). Tanah liat sebagai nasinya dan air putih yang entah dicampur apa sehingga berwarna coklat menyerupai air teh. Sedangkan peralatan masak-masakan tersebut seperti piring-piringan, gelas-gelasan, sendok dan lain sebagainya mereka bawa dari rumah. Benar-benar niat memainkan permainan ini, pikirku.

Dalam hati ada rasa senang juga bahwa ada beberapa anak yang masih dengan setia memainkan permainan tradisional tersebut. Sayang banget kalau permainan-permaian tersebut cuma tinggal ceritanya saja atau bahkan dilupakan begitu saja. Karena sejatinya permainan-permainan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia itu kaya akan ragam budayanya.

Advertisements
Image
0

Dia, Tujuh Belas Tahun Kemudian

Alone_by_homigl14

Picture from Deviantart.com

Dia tumbuh, tumbuh, tambah tumbuh
Dan kini sudah jadi seorang gadis seperti kamu, cantik
Tapi dia tidak mampu tersenyum, bahkan dalam hati

Setiap hari dia pelajari hal-hal baru
Misalnya, cara-cara sederhana meluapkan kebahagiaan

Setiap hari dia juga pelajari kembali hal-hal lama
Misalnya, cara-cara sederhana melupakan kesedihan
Dalam hidupnya, keduanya sama-sama penting

Dia tumbuh, tumbuh, tambah tumbuh
Dan kini sudah jadi seorang gadis seperti kamu, manis
Tapi dia tidak mau menangis, bahkan dalam hati

Setiap malam dia katakan pada ibunya
:“jangan terlalu banyak menangis, ibu, aku tak tahu berenang.”
Setiap malam ia bertanya kepada Tuhan
:“aku mencintai masa kecil dan kehidupan, tapi kenapa dirusak orang?”

 

Note :
Salah satu puisi yang menurut saya ngena banget. Saya dapet puisi tersebut dari website seorang teman yang sayangnya sekarang udah ditutup. Puisi tersebut bukan karya teman saya. Dan sayangnya lagi saya lupa nama penulis puisi tersebut. siapapun penulisnya, saya mohon ijin untuk posting di blog saya. Makasih 🙂

 

Image
2

Kepada Dia Yang Sangat Mencintai Buku

going__going____gone__by_ozzwizard

Picture From Devianart.com

Hari itu, 16 Pebruari 2016 sebuah kabar duka sampai kepadaku lewat status seorang teman di Blackberry Messenger. Kabar tentang berpulangnya seorang teman yang kukenal sangat baik. Ia yang semasa hidupnya sangat mencintai buku. Ia yang telah mewujudkan mimpinya untuk membangun perpustakaannya sendiri. Ia yang begitu asik membagi pengetahuannya dengan anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan simbah-simbah di kampung tempat ia tinggal melalui buku-buku di perpustakaan rumahnya. Ia yang pada suatu waktu di dalam hidupnya pernah begitu antusias bercerita kepadaku tentang pencapaian-pencapaian di dalam hidupnya melalui buku-buku dan perpustakaan pribadinya. Ia yang pada suatu ketika pernah berkisah tentang awal mula kecintaannya pada buku dan membaca.

“dari uang saku yang aku kumpulkan aku membeli buku pertamaku” begitu bilangnya suatu waktu

“setelah lulus SMA aku merantau ke Jakarta. Setiap minggu ketika aku libur, aku selalu pergi ke toko buku atau ke tempat diadakannya bazar buku. disana aku bisa mendapatkan buku-buku yang aku suka” lanjutnya

“semakin lama buku-buku koleksiku semakin banyak. Lalu ketika aku kembali ke kampungku, aku mempunyai impian untuk membangun perpustakaan di rumah. Setelah melalui perjuangan akhirnya jadilah perpustakaan ini” ucapnya sumringah

Seperti baru kemarin percakapan tiga tahun yang lalu itu terjadi. Percakapan yang ternyata menjadi percakapan panjang kami yang terakhir. Setelah kepindahanku ke tempat kerjaku yang baru, kami tidak lagi sering bertemu. Hanya sesekali berkabar lewat Whatsapp chat. Terakhir ku dengar bahwa Kanker mulai menggerogoti tubuhnya. Beberapa kali Kemo terapi dan pengobatan alternatif ternyata hanya mampu menyambung hidupmu sampai Pebruari tahun 2016 ini. Dan kisah hidupnya usai sampai 16 Pebruari 2016. Singkat sekali memang. Kau telah kembali ke haribaannya di usia yang cukup muda. Mengutip salah satu quote dari Byru :

“Semua terjadi seperti sebagaimana semua harus terjadi”

Benar bahwa semua yang telah digariskanNya pasti akan terjadi. Kapan waktunya hanya Dia yang tahu. TakdirNya adalah sebuah keniscayaan. Tidak mempedulikan siap tidaknya dirimu. Ataupun rela tidaknya dirimu. Namun dalam setiap segala sesuatu yang terjadi aku meyakini bahwa Dia tengah mengajarimu ilmu ikhlas dan sabar.

Selamat jalan, kawan. Semoga perjalanan barumu disana selalu diberi kelancaran dan kemudahan. Terima kasih untuk semua kebaikan dan kenangan indah yang pernah kita buat bersama. Mendoakanmu adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan sekarang. I’ll always miss you.

Image
0

Rindu Itu Kini Mewujud Doa

Hai Byru,
Entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi lebih sering mengingatmu. Segala tentangmu selalu begitu saja dengan mudahnya terlintas di dalam pikiranku. Semua kenangan tentangmu begitu derasnya mengalir seperti hujan di Januari yang basah ini. Semua yang pernah kita lewati dahulu serasa baru saja berlalu, seperti hanya dalam satu kedipan mata saja.

Byru, apa kabarmu?
Semoga selalu baik-baik disana yah. Mengharapkan segala yang terbaik untukmu masih menjadi doa utama yang selalu tanpa lelah kupanjatkan di sehabis sholatku kepada Dia, sang maha menggenggam. Karena hanya melalui doa-doa aku merasa menjadi tetap dekat denganmu, juga denganNya. Penulis skenario terhebat dari kisah kita ini.

“Rindu itu kini mewujud doa”

Byru,
Beberapa hari lalu aku sempat stalking akun youtube mu. Hal yang sebenarnya sudah lama tidak ku lakukan. Pada playlist lagu mu aku menemukan salah satu lagu yang ketika aku mendengarnya untuk pertama kali langsung klik. Lagu dari band favoritmu yang juga telah menjadi band vaforitku semenjak waktu itu kau kirimkan kepadaku bersama beberapa lagu lain yang masih tersimpan rapi di folder lagu-lagu di dalam laptopku. Lagu untuk Oranganeh, begitu dulu kita menyebutnya. Karena lagu-lagu tersebut termasuk lagu anti mainstream yang jarang disukai sama manusia kebanyakan. Lagu yang hanya cocok di telinga oranganeh seperti kau dan aku, seperti kita dahulu.

While Your Lips Are Still Red, begitu judul lagu dari band Nightwish tersebut. Lagu melankolis untuk oranganeh, mungkin bisa disebut begitu. Lagu yang beberapa hari ini membuatku jadi baper. Setelah aku googling ternyata lagu itu adalah lagu lama (lagu bagus yang terlambat aku ketahui) hihihi. Lagu dari tahun 2007 yang merupakan soundtrack sebuah film yang berjudul Lieska!.

Here is the song…

Image
0

Tidak Berjudul

417577_164997390280628_401908588_n

Seperti terkurung di masalalu
dengan gambar usang terpasang dimanamana
candamu, tawamu, senyummu, kisah-kisahmu
terus ada diantaranya

Seperti menjadi tawananmu
terkurung di ruang gelap didalam ingatanmu
tanpa sedikitpun celah untuk dapat melihat kau bertumbuh
tanpa pernah berkesempatan menyaksikan masa depanmu

-201501180285-

Image
0

Supernova Gelombang : Antara Mimpi-mimpi Alfa dan Mimpi-mimpiku

Gelombang

Adalah Alfa Sagala, seorang bocah kampung dengan kehidupan sederhana. Ia tinggal di sebuah kampung kecil bernama Sianjur Mula Mula bersama bapak, ibu, dan kedua kakaknya. Segala sesuatu di dalam hidupnya berjalan biasa saja, sampai pada suatu hari sebuah upacara adat batak, yaitu upacara gondang benar-benar mengubah hidupnya. Mahluk misterius yang disebut Si Jaga Portibi tiba-tiba muncul menghantuinya. Orang-orang sakti di kampungnya berebut menjadikannya murid. Dan yang paling menakutkan dari itu semua adalah mimpi buruk yang terus muncul di setiap tidurnya. Tidur baginya berarti meregang nyawa.

Belasan tahun Alfa menjalani hidup yang tergolong aneh karena berbeda dengan manusia kebanyakan. Ia tidak pernah menjalani rutinitas tidur malam seperti manusia kebanyakan, ia memilih terjaga, membaca banyak buku adalah pilihannya. Semua ia lakukan agar terhindar dari mimpi buruk yang terus mengganggu tidurnya. Kesempatan-kesempatan dalam hidupnya membawanya sampai ke benua Amerika. Di sebuah kota kecil bernama Hoboken ia berjuang sebagai imigran gelap untuk mendapatkan status legal.

Pada suatu malam seseorang datang, dan tanpa diduga kehadirannya mengharuskan Alfa menghadapi ketakutan terbesarnya, masuk ke alam mimpi, menghadapi mimpi buruk yang selama bertahun-tahun ia hindari. Akankah Alfa mendapatkan status legalnya? Lalu bagaimana cara ia memperoleh jawaban atas mimpi-mimpi anehnya tersebut??? Supernova : Gelombang is the answer,hehehe.

Membaca gelombang, menyaksikan kebingungan-kebingungan Alfa Sagala tentang mimpi-mimpinya yang terus berulang sama. Mimpi yang selama bertahun-tahun terus muncul dalam tidurnya sama seperti menyaksikan diri saya sendiri. Masih sangat jelas dalam ingatan saya tentang mimpi-mimpi yang sama, yang terus muncul di setiap tidur. Dari beberapa tahun lalu sampai saat ini, mimpi itu masih sering muncul. Walaupun mimpi-mimpi saya tidak seseram Alfa sagala, namun cukup membuat saya penasaran. Hal yang membuat saya heran adalah kenapa pola mimpi itu selalu sama.

Dalam mimpi itu seorang laki-laki dengan wajah yang berbeda-beda terus mengikuti kemanapun saya pergi. Namun saya merasakan bahwa dibalik wajah yang berubah-ubah tersebut terdapat jiwa yang sama, jadi jiwa itu seperti meminjam tubuh banyak orang. Yang membuat saya merasa aneh lagi adalah perasaan nyaman ketika ia ada dan terus mengikuti kemanapun saya pergi. Seperti malaikat penjaga. Tapi entahlah.

Semakin saya penasaran dengan mimpi-mimpi itu, semakin saya ingin menemukan jawaban atas semuanya, maka saya semakin dibuatnya frustasi. Ngerasa pusing dan bingung ga jelas and have no clue. Untuk menghindari rasa penasaran tersebut, selama beberapa bulan terakhir ini saya memilih tidak peduli, memilih mengabaikan mimpi tersebut tiap kali muncul dalam tidur saya. Menganggap mimpi-mimpi itu sebagai mimpi yang biasa saja sepertinya adalah pilihan yang terbaik saat ini dan mungkin nanti.