Image
0

Tidak Berjudul

417577_164997390280628_401908588_n

Seperti terkurung di masalalu
dengan gambar usang terpasang dimanamana
candamu, tawamu, senyummu, kisah-kisahmu
terus ada diantaranya

Seperti menjadi tawananmu
terkurung di ruang gelap didalam ingatanmu
tanpa sedikitpun celah untuk dapat melihat kau bertumbuh
tanpa pernah berkesempatan menyaksikan masa depanmu

-201501180285-

Image
0

Kembali Kepada Sunyi

Pic from FB Page BnW Minimalism (c) Marek Waligora

(c) Marek Waligora

Kembali kepada sunyi
Berteman lagi dengan sepi
Kembali bertemu hitam dan putih
Warna yang sebenar-benarnya warna

Kembali ke pangkuan malam
karena gelapnya, satu-satunya yang dengan ikhlas
mampu menerima
Karena heningnya, satu-satunya yang dengan sabar
mendengar tiap keluh kesah

Persetan dengan pagi yang katanya indah
dengan senja yang katanya menakjubkan
Dengan byru langit yang katanya menawan
Dengan merah, kuning, hijau, ataupun ungu
yang katanya mampu memperindah segala yang ada

Karena semua hanya hingar bingar
yang sesaat kemudian akan hilang
Dan hanya sunyi satu-satunya yang abadi
Kepada sunyi aku kembali

Image
0

Tentang Arin

arin erna

Namanya Arin. Dia adalah salah satu siswa di sekolah tempat saya mengajar. Dia duduk di kelas satu. dia termasuk anak yang cerdas dan memiliki bakat menggambar yang bagus. Dia tidak terlalu banyak bicara seperti anak – anak yang lainnya. Tapi ketika berada di dekat saya, maka dia akan banyak bercerita tentang apa saja. Mimpi – mimpinya, keluarganya, atau apa saja yang dialaminya. Dia juga akan menanyai saya tentang banyak hal, meminta saya bercerita tentang masa kecil saya dan sebagainya. Saya sangat menyukai dandanan rambutnya yang unik. Dua kuncir yang unik di kepalanya dengan poni rata menutupi jidatnya membuatnya terlihat sangat manis.

Melihat Arin, saya seperti melihat diri saya sendiri sewaktu kecil. Mata bulatnya, pipinya yang chubby dan poninya selalu mengingatkan saya pada masa kecil saya. Dulu, ibu selalu memotong rambut saya seperti model rambut Arin sekarang. Waktu kecil saya juga termasuk anak yang tidak banyak bicara seperti Arin. saya juga suka menggambar seperti dia. Tapi setelah dewasa entah kemana hilangnya bakat menggambar itu. Kadang saya rindu ingin menggambar seperti dulu.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kertas sederhana bertuliskan Arin sayang buguru darinya. Lalu keesokan harinya dia memberiku setangkai bunga mawar merah yang masih sangat segar, manis sekali. Saya selalu ingat ekspresi wajahnya yang malu – malu ketika memberikan kertas itu, yang saya sebut sebagai surat cinta dari Arin.

Terimakasih yah, Arin sayang. Buguru juga sangat menyayangi Arin. Tetaplah menjadi anakmanis yang menyenangkan. Loveyou.