Image
0

Purple

DSCF0118

Advertisements
Image
0

Kembali, Bagian #3

“udaaahh..jangan dipandangin foto-fotonya aja. Terima kembali orangnya, baru oke” ledek Daniel  yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang tempat dudukku, di salah satu sudut coffe shop langganan kami.

“apa sih lu..”jawabku sewot

“gue cuma pengen liat temen gue ini bahagia. Kalau lu bahagia kan gue ga perlu sibuk-sibuk menghibur lu” ucapnya lagi sambil tergelak

“oooooo..jadi selama ini gue tu ngrepotin lu gitu. Okeeee…..ga lagi-lagi gue curhat sama lu,huuuhh” ucapku masih dalam nada sewot

“hahahaha….marah dia” ucapnya tergelak

Daniel menyesap kopi yang telah ku pesankan beberapa menit sebelum ia datang. Sambil sesekali memperhatikan aku yang masih asik dengan tablet dihadapanku.

“kenapa sih lu masih aja ga yakin sama cowo yang nyata-nyata masih sayang banget sama lu. udah nungguin lo sekian tahun. Terus sekarang kalian dipertemukan lagi. Jarang lho ada cowo kaya gitu, Re. Kalau gue jadi dia nih ya, gue udah ninggalin lu dari dulu” ucapnya kali ini dalam nada serius

“hmmmm…. gimana ya. Sebenernya gue bukannya ga yakin sama dia, Dan. Bukannya ga cinta sama dia. Tapiiii…. gue ga yakin pantes buat dia. Gue masih inget ucapan ibunya dulu. Kalau Arga itu keturunan darah biru. Ga pantes perempuan biasa kaya gue jadi pendamping dia” ucapku getir

“yaelah, Re. Hari gini masih mikirin darah biru, kuning, ijo, ato merah. Kalau cinta ya cinta aja. Ga perlu alasan lain. Ini tu tahun 2014 Masehi, Re. Bukan 2014 sebelum masehi. Ga usah mikirin nyokapnya setuju ato enggak. Yang terpenting Arga cinta sama lu, dan dia mau memperjuangkan cinta kalian. Sekarang tinggal elunya” ucapnya lagi kali ini lebih serius

“tapi masalahnya orang Solo kan emang kaya gitu, Dan. Mereka sangat peduli dengan bibit bebet bobot. Dan mengacu pada itu semua, aku tu sama sekali ga masuk kriteria mereka” jawabku

“bego lu…udah dibilangin, kalo cinta ya cinta aja. Tinggal kaliannya mau berjuang bersama-sama ato enggak. Kalau kalian mau berjuang bersama-sama, kalian pasti akan menang. Tapi kalau kamunya memilih kalah kaya sekarang ya nyokapnya Arga yang menang ”ucapnya berapi-api

Aku terdiam. Mencoba mencerna semua ucapan Daniel. Mengalihkan pandanganku ke jalanan di luar coffe shop. Mataku menerawang. Mengingat semua kebaikan Arga, kegigihannya, keyakinannya, kesabarannya dan cintanya yang tak pernah putus terhadapku.

*

“cinta itu kesabaran, keyakinan dan keberanian. Cinta itu tidak putus asa” begitu kira-kira kicau Arga di jejaring sosial twitter.

Membaca kalimat itu rasanya sedih. Ada nyeri didalam hatiku. Ingin rasanya aku menyerah dengan keangkuhanku dan berlari kepadanya. Berjanji untuk terus bersama-sama melewati apa saja. Mewujudkan mimpi-mimpi kami dahulu. Membuktikan pada ibunya bahwa cinta yang kami miliki lebih besar dari ketidak setujuannya.

love_by_toxiclovekid-d4ju4la

Bersambung….

 

Image
0

Balada Capres Cawapres

“nanti pemilu presiden pilih capres A aja ya..” ucap bos saya siang itu di sela istirahat

Saya hanya tersenyum menanggapi ucapannya.

“nanti kalau milih capres B tunjangan sertifikasi guru tu bakal di cabut. Mau kamu tunjangan sertifikasi kita di hentikan???” ucapnya lagi kali ini dalam nada tanya

“kok bisa gitu bu?” ucap saya sembari tersenyum

“lho apa kamu ini ga pernah nonton berita di TV to??  itu si capres B kan dalam kampanye nya sudah berujar kalau dia yang kepilih jadi presiden tunjangan sertifikasi guru bakal dihentikan. Saya aja udah bilang sama saudara-saudara dan tetangga-tetangga saya buat milih capres A aja, yang lebih tegas, berwibawa dan bla bla bla bla…..” begitu jelasnya panjang lebar daan berapi-api.

Kembali saya hanya tersenyum menanggapi penjelasannya yang bagi saya malah kedengaran mirip kampanye ini.

Bagi saya memilih calon presiden berdasarkan ketakutan seperti itu adalah kekonyolan yang paling konyol. Memilih secara membabibuta tanpa peduli track record calon yang bakal dipilihnya. Semua hanya karena ketakutan yang bagi saya sangat tidak logis. Ketakutan yang belum jelas kebenarannya.

Menentukan pilihan bagi saya tidaklah semudah seperti ketika saya bilang “saya mau makan” atau “saya mau kebelakang, buang air kecil dulu ya”. Menentukan piliha itu bagi saya harus benar-benar jeli dan harus dipikirkan secara matang, bukan hanya ikut-ikutan semata. Pilihan berdasarkan ikut-ikutan bagi saya menunjukkan bahwa kita sebagai manusia tidak mempunyai pendirian. Bukankah kita sebagai manusia telah dianugerahi hati dan otak untuk berfikir, menimbang, dan memilah mana yang baik dan mana yang benar?. Lalu kenapa saya harus mengikutimu jika saya bisa memilih sendiri berdasarkan hati nurani saya?.

Bagi saya tidak ada yang berhak mengatur pilihan kita soal capres cawapres ini. Tidak juga bos, orangtua, pacar, suami, sahabat ataupun teman. Karena kita berhak menentukan pilihan kita sendiri. Berdasarkan pertimbanan hati dan otak kita sendiri. Kalau kamu sudah punya calon sendiri, pilih calonmu. Taidak perlu memprovokasi orang lain untuk mengikutimu dengan menjelek-jelekkan capres cawpres lain. Bagi saya memilih adalah privasi setiap orang tanpa perlu campur tangan orang lain.

DSCF2202