Image
0

Sosok Yang Indah Itu Telah Berpulang

“Hal yang paling menakutkan bagiku sekarang bukanlah tidak memiliki banyak uang, kehidupan mewah ataupun jabatan tinggi. Hal paling menakutkan adalah jika saat aku dipanggil, kembali ke haribaanNya dan belum mempunyai cukup bekal untuk itu semua”

Sore kemarin, Kamis 30 Juni 2016 berita duka itu sampai padaku melalui status KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus. Pertama kali membaca isi status beliau yang mengabarkan tentang berpulangnya Ibunda Siti Fatmah Mustofa yang merupakan istri dari Gus Mus sendiri, saya merasa tidak percaya.

“apa iya? Apa saya ga salah baca?”

begitu bisik hati saya. Sampai pada akhirnya saya baca berulang-ulang status yang diawalai dengan kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” tersebut sembari membaca komen-komen pada status tersebut yang kesemuanya menyatakan turut berbelasungkawa atas berpulangnya ibunda. Pada titik itu saya baru yakin bahwa apa yang saya baca benar-benar terjadi, ibunda Siti Fatmah yang indah itu benar-benar sudah kembali keharibaanNya di hari ke 25 bulan romadhon yang suci ini.

Saya memang tidak pernah berkesempatan mengenal ibunda secara langsung. Saya hanya mengenal beliau melalui status ataupun foto-foto ibunda yang biasa diunggah Simbah Kakung atau Gus Mus di akun Fesbuk beliau. Namun dari kesemua itu saya bisa melihat bahwa beliau adalah sosok yang indah dalam segala hal dan menjadi panutan bagi saya yang awam ini. Seorang perempuan yang anggun. Seorang istri yang setia kepada suami. Seorang ibu yang menjadi panutan bagi anak-anak beliau. Seorang manusia yang berhati mulia.

Ibunda Siti Fatmah wafat pada usia 66 tahun. Usia yang hampir sama seperti ketika Kanjeng Nabi Muhammad SAW wafat. Kenyataan tersebut membuat saya menyadari sesuatu yang membuat saya benar-benar merasa khawatir dan takut. Khawatir dan takut dalam hal ini bukanlah takut mati, karena kematian adalah sebuah keniscayaan. Segala yang ada pada akhirnya akan tiada. Kekhawatiran dan rasa takut yang muncul pada diri saya adalah khawatir dan takut bagaimana jika pada waktu saya harus kembali keharibaanNya dan saya belum memiliki cukup bekal untuk itu semua????  saat sekarang saya masih menjadi manusia yang masih sering berbuat kesalahan dan melakukan dosa-dosa. Masih belum bisa benar-benar menjadi manusia yang berguna bagi sesama dan masih begitu banyak hal-hal yang belum mampu saya lakukan dengan baik sebagai manusia. Sedih juga menyadari kenyataan itu.

Menurut cerita dari salah satu putra Gus Mus, Ibunda Siti Fatmah meninggal dalam pelukan Gus Mus. “Allahhu akbar” dan “astaghfirullah hal adzim” menjadi kalimat terakhir yang terucap oleh ibunda sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Bahagia banget mungkin ya bisa kembali dengan cara yang baik. Semoga khusnul khotimah, ibunda.

Dan hari ini, saya telah kehilangan salah satu sosok panutan saya. Sedih iya, sempet nangis iya. Namun seperti kata Gus Mus…

”Mau gimana lagi yang memanggil dan mengambilnya adalah pemiliknya sendiri, pastilah Dia lebih menyayanginya”.

Selamat jalan, ibunda. Doaku selalu. Kau akan selalu ada dekat disini, didalam hatiku.

gusmus & ibunda siti

Gus Mus bersama Ibunda Siti Fatmah – Foto dari akun Fesbuk GusMus-