Image
0

Detail

DSC_0012

A wood carving on one side of the table in the living room of my house

Advertisements
Image
0

Kembali, Bagian #2

“Bagaimanapun sikapmu terhadapku. Diam, acuh, angkuh, cuek, atau ga mau ngomong sama aku sekalipun, itu semua ga akan menghalangiku untuk terus mencintai dan meyakinimu, Re. Karena aku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dibalik itu semua. Sesuatu yang sama seperti yang aku rasakan, mencintai dan merindukan”.

Aku masih tertegun memandangi layar laptopku. Membaca dengan seksama kata demi kata yang ditulis Arga di surat elektronik itu. Aku semakin tertegun membaca bagian terakhir isi surat itu. Antara sedih dan gembira. Antara ingin menangis atau tersenyum bahagia. Antara harus melupakan atau menerima dia kembali seperti dulu.

Jam digital di pojok kanan bawah laptopku sudah menunjukkan pukul 23.30. Dan aku masih saja dibuat bimbang oleh email yang selama beberapa jam ku baca berulang kali. Ingin rasanya aku membalas email itu. Menumpahkan segala yang kurasakan. Mengungkapkan semua rasa yang terus berkecamuk di dalam hatiku. Rasa yang bertahun-tahun kupendam dan terus kuingkari. Berharap pada saatnya nanti akan hilang seiring waktu berlalu.

“Seperti berlari-lari di dalam lingkaran, yang awalnya adalah akhir dan akhirnya adalah awal. Sejauh apapun aku berlari kembalinya selalu padamu. Serapat apapun aku bersembunyi, selalu mampu kau temukan kembali”.

Pukul 24.00 dan aku semakin frustasi dibuatnya. Telah kuputuskan untuk tidak membalas email panjang itu. Bukan karena aku benci, marah ataupun tak peduli terhadapnya,namun lebih karena aku tak bisa melawan bisikan di hatiku yang terus mengatakan bahwa aku harus melupakannya. Bahwa meninggalkannya adalah sebuah keharusan. Bahwa menjauh darinya adalah untuk kebaikan semua. Walau pada kenyataannya aku harus menyakiti diriku sendiri dan terluka. Lebih baik aku sakit karena rindu daripada harus bersamanya dan dia tidak bahagia bersamaku.

*

Hari – hari setelahnya aku lebih sering menghabiskan waktuku mengunjungi page fotografinya di fesbuk. Mengamati setiap geraknya di jejaring sosial terbesar itu dalam diam. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah melihat foto-foto postingannya. Foto-foto hasil perjalanannya keliling Indonesia. Senang rasanya melihat dia yang sedikit demi sedikit telah mewujudkan impiannya.

“impianku adalah keliling Indonesia. Pengen rasanya bisa mengexplor keindahan negeri kita. Mulai dari manusia-manusianya, adat istiadat dan budanya dan segala keindahan alamnya” bilangnya dahulu di suatu waktu ketika kami masih bersama

“wah bakalan sering traveling dunk kamu, say. Aku bakalan sering kamu tinggalin dunk, huft” keluhku

“enggak dunk, kan ntar kamu yang nemenin aku. Kita perginya bareng-bareng, say. Mau kan kamu terus nemenin aku?”  jawabnya dalam nada meminta

“siyaapppp deh kalo kaya gitu, say. Tapi say… ketika kamu pergi, aku lebih suka menunggumu pulang, sambil terus mendoakanmu agar perjalananmu lancar” bilangku

“Terimakasih, say” ucapnya lirih sambil mengecup kedua tanganku yang sedari tadi telah berada di genggaman tangannya.

Holding_Hands_by_knightrazor

Bersambung……

Image
0

Balada Capres Cawapres

“nanti pemilu presiden pilih capres A aja ya..” ucap bos saya siang itu di sela istirahat

Saya hanya tersenyum menanggapi ucapannya.

“nanti kalau milih capres B tunjangan sertifikasi guru tu bakal di cabut. Mau kamu tunjangan sertifikasi kita di hentikan???” ucapnya lagi kali ini dalam nada tanya

“kok bisa gitu bu?” ucap saya sembari tersenyum

“lho apa kamu ini ga pernah nonton berita di TV to??  itu si capres B kan dalam kampanye nya sudah berujar kalau dia yang kepilih jadi presiden tunjangan sertifikasi guru bakal dihentikan. Saya aja udah bilang sama saudara-saudara dan tetangga-tetangga saya buat milih capres A aja, yang lebih tegas, berwibawa dan bla bla bla bla…..” begitu jelasnya panjang lebar daan berapi-api.

Kembali saya hanya tersenyum menanggapi penjelasannya yang bagi saya malah kedengaran mirip kampanye ini.

Bagi saya memilih calon presiden berdasarkan ketakutan seperti itu adalah kekonyolan yang paling konyol. Memilih secara membabibuta tanpa peduli track record calon yang bakal dipilihnya. Semua hanya karena ketakutan yang bagi saya sangat tidak logis. Ketakutan yang belum jelas kebenarannya.

Menentukan pilihan bagi saya tidaklah semudah seperti ketika saya bilang “saya mau makan” atau “saya mau kebelakang, buang air kecil dulu ya”. Menentukan piliha itu bagi saya harus benar-benar jeli dan harus dipikirkan secara matang, bukan hanya ikut-ikutan semata. Pilihan berdasarkan ikut-ikutan bagi saya menunjukkan bahwa kita sebagai manusia tidak mempunyai pendirian. Bukankah kita sebagai manusia telah dianugerahi hati dan otak untuk berfikir, menimbang, dan memilah mana yang baik dan mana yang benar?. Lalu kenapa saya harus mengikutimu jika saya bisa memilih sendiri berdasarkan hati nurani saya?.

Bagi saya tidak ada yang berhak mengatur pilihan kita soal capres cawapres ini. Tidak juga bos, orangtua, pacar, suami, sahabat ataupun teman. Karena kita berhak menentukan pilihan kita sendiri. Berdasarkan pertimbanan hati dan otak kita sendiri. Kalau kamu sudah punya calon sendiri, pilih calonmu. Taidak perlu memprovokasi orang lain untuk mengikutimu dengan menjelek-jelekkan capres cawpres lain. Bagi saya memilih adalah privasi setiap orang tanpa perlu campur tangan orang lain.

DSCF2202

 

 

Image
0

Tentang Negeriku, Dahulu

Dahulu, yaaa..dahulu sekali
Kita adalah bangsa yang kayaraya
Tanah yang subur membentang
Melimpahruah hasil alamnya
Elok dan berisi lautnya
Gemah ripah loh jinawi

Dahulu, yaaa… dahulu sekali
Kita adalah bangsa yang kaya akan budaya
Batik, tari, wayang, lagu daerah, keris hingga reog
Semua milik kita, hingga membuat iri dunia

Yaaaa.. dahulu sekali kita adalah bangsa yang merdeka
Bangsa yang ramah dan mencintai budayanya
Dahulu sekali sebelum kita menganggap bahwa Mc Donald
lebih enak dari nasi gudeg
Dahulu sekali sebelum kita menganggap bahwa celana jeans
lebih keren dari baju batik
Dahulu sekali sebelum kita menganggap bahwa miki mos
lebih menarik dari Si Unyil
Dahulu sekali sebelum kita menjadi budak Amerika

Wahai anak-anak nusantara, generasi penerus bangsa
Tidakkah kau tahu bahwa dengan kekayaan yang kita miliki
negeri ini bisa mencipta tank, kapal perang, pesawat, rudal, nyali, dan nuklir
Hingga negara-negara tetangga tidak begitu saja dengan bebasnya menghina dan mencaci
Tidakkah kau lihat bahwa budaya kita lebih megah
dari semua yang Amerika miliki?

Maka marilah semua, cintai dan hargai budaya sendiri
Gunakan cipta karya pribumi
Jadikannya raja di bumi pertiwi
Agar penjajahan tak ada lagi dan lagi
Agar kita mampu berdiri sendiri dengan kaki yang kokoh ini.

(20130318285)

budaya indonesia