Image
0

Hello February

DSCF5148.0

Februari,
Pagi ini ia hadir bersama rinai hujan
Dan senandung pagi seorang bocah

Advertisements
Image
0

Sekali Lagi Tentang Ikhlas

“Selamat ulang tahun, kak. Wish you all the best”

Begitu bunyi ucapan selamat ulang tahun salah seorang teman saya untuk mantan pacarnya di jejaring sosial Fesbuk. Mungkin terdengar sederhana dan ga penting di mata orang yang ga mengenal kisah mereka beberapa waktu lalu. Saya yakin perlu banyak keberanian dan keikhlasan bagi si cewe buat ngucapin itu, mengingat bagaimana sakit hatinya dia setelah dikecewain, disakitin dan sebagainya sama mantan cowonya itu. Namun bagi saya teman saya itu cukup berani dan tabah untuk bisa sampai pada level itu.

Lalu beberapa minggu lalu, pemandangan yang sama juga saya lihat. Kali ini pada adik saya, yang dengan riang dan tanpa beban ngobrol dan becandaan di BBM sama mantannya yang juga pernah menyakiti dia beberapa tahun yang lalu. Saya sangat iri melihat mereka bisa berlaku layaknya teman lama dengan mantannya. Saya sangat yakin diperlukan keikhlasan dan kerelaan untuk bisa sampai di titik itu. Bagi saya adik saya dan teman saya itu adalah contoh manusia yang sabar dan ikhlas menghadapi kenyataan.

Melihat itu, saya jadi melihat ke diri saya. Sudahkah saya se-legowo mereka menerima dan menghadapi kenyataan?? Sudahkah saya seikhlas dan dan sesabar mereka menghadapi masalalu?? Melihat itu, aku jadi ingat kamu, yaa kamu. Yang dulu pernah menjadi teman terbaikku. Lalu pada suatu ketika bersepakat untuk menjadi kita. Dan setelahnya kamu memutuskan segalanya secara tibatiba. Manusiawi kan kalau mendengar keputusanmu dulu aku sangat kecewa, benci, marah, sedih, bahkan mungkin hancur. Tapi setelah semuanya reda aku sadar bahwa semua itu tidak perlu dan aku memberanikan diri untuk meminta maaf. Namun yang kudapat adalah diammu yang memuakkan sampai hari ini.

Saat ini, sejujurnya yang paling kusesali adalah kehilangan kamu sebagai temanku. Karena denganmu aku telah belajar banyak hal dan aku ingin terus begitu. Sejujurnya yang paling kuinginkan saat ini adalah kita bisa kembali bertaman seperti dulu. Saling menyapa, saling bercerita, saling berbagi tulisan dan foto persis seperti dulu, tidak lebih. Namun tiap kali aku berusaha menyapa yang kutemui adalah orang asing dengan tatapan angkuh penuh kesombongan, bukan kamu yang kukenal dahulu.

Pada titik itu, aku cuma bisa ikhlas menerima kenyataan. Menghadapinya dengan tabah, serta berusaha bersikap dewasa. Memahami bahwa tidak semua inginku harus terwujud. Bahwa tidak semua niat baik bisa juga dipahami dan diterima orang lain dengan baik pula. Pada titk itu pula, aku menyimpulkan bahwa tidak selalu orang yang lebih tua itu telah juga dewasa. Dan tidak selalu pula bahwa yang lebih muda itu belum dewasa. Karena ternyata umur bukanlah jaminan kedewasaan manusia.

Seperti sebuah quote yang pernah kubaca :

“Menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu pilihan”.

alone