Image
0

The Two Of Us

BOTH

Advertisements
Image
0

Thank You, January

“Everything going so fast, in the blink of an eye”

Januari yang basah itu kini akan segera pergi. Hari ini ia telah genap tiga puluh satu hari. Dan seperti ketentuannya, ia akan pergi di penanggalan ini. Ia selalu tepat waktu. Ia juga tak pernah ingkar janji. Datang dengan rintik, berlalu dalam basah dan dingin. Begitu cepat waktu berlalu.

Ada banyak hal yang telah aku lalui bersama Januari. Hari-hari pertamaku bersama Januari cukup melankolis. Ada banyak hal dari Desember yang belum bisa aku lepaskan. Belum bisa aku ikhlaskan. Namun Januari, dengan ikhlas dan sabar menerimaku, mengajari banyak hal di setiap hariku. Seperti seorang ibu yang dengan naluri keibuannya, dengan sabar menuntun anaknya yang masih bocah melihat dunia. Menjawab setiap tanya yang tiap kali terlintas di pikiran anaknya. Mengisi ruang-ruang kosong dalam diri bocah kecil itu dengan pengetahuan. Hingga pada waktunya ia siap melihat dunia dengan pengetahuan yang ia miliki.

Januari dengan derai hujannya telah mengajariku ketegaran. Dengan dinginnya, ia seolah berkata bahwa sedingin apapun hari haruslah tetap di lalui. Tidak ada kata berhenti. Tidak ada kata menyerah. Karena hidup haruslah terus berjalan. Pada Januari, aku juga belajar tentang ikhlas melepaskan segala sesuatu yang sudah di luar batas kendaliku. Dengan kehadirannya di awal bulan dan kepastian akan kepergiannya di akhir bulan, ia membuka mataku bahwa awal dan akhir adalah sebuah keniscayaan. Dan akan terus begitu seterusnya. Berputar menjadi sebuah siklus dalam hidup.

Selamat jalan, Januari. Semoga kita masih akan dipertemukan lagi di tahun-tahun yang akan datang. Dengan kisah-kisah yang lebih indah dan membahagia. And eh… thank you for all the lessons, January. Maybe, i need to say…missyou already and hug you tight,haha.

rain_lights_by_kateey-d3i3m7p

Image
0

Kembali Kepada Sunyi

Pic from FB Page BnW Minimalism (c) Marek Waligora

(c) Marek Waligora

Kembali kepada sunyi
Berteman lagi dengan sepi
Kembali bertemu hitam dan putih
Warna yang sebenar-benarnya warna

Kembali ke pangkuan malam
karena gelapnya, satu-satunya yang dengan ikhlas
mampu menerima
Karena heningnya, satu-satunya yang dengan sabar
mendengar tiap keluh kesah

Persetan dengan pagi yang katanya indah
dengan senja yang katanya menakjubkan
Dengan byru langit yang katanya menawan
Dengan merah, kuning, hijau, ataupun ungu
yang katanya mampu memperindah segala yang ada

Karena semua hanya hingar bingar
yang sesaat kemudian akan hilang
Dan hanya sunyi satu-satunya yang abadi
Kepada sunyi aku kembali

Image
0

Dimana-mana

Kamu ada dimana-mana
Dimana-mana ada kamu

Di semua jalan yang pernah ku lalui
Di semua tempat yang pernah ku singgahi
Di semua mimpi dan harapku
Di tiap doa yang dulu kupanjatkan
Di tiap ruang dan waktuku

Kamu pernah menjadi tujuan perjalananku
Hatimu pernah menjadi tempat paling nyaman
Rumah terindah yang pernah kumiliki

Kini, hatimu adalah tempat terjauh
yang takkan pernah tertempuh

go_back_home_by_ssilence

Image
0

Sekali Lagi Tentang Ikhlas

“Selamat ulang tahun, kak. Wish you all the best”

Begitu bunyi ucapan selamat ulang tahun salah seorang teman saya untuk mantan pacarnya di jejaring sosial Fesbuk. Mungkin terdengar sederhana dan ga penting di mata orang yang ga mengenal kisah mereka beberapa waktu lalu. Saya yakin perlu banyak keberanian dan keikhlasan bagi si cewe buat ngucapin itu, mengingat bagaimana sakit hatinya dia setelah dikecewain, disakitin dan sebagainya sama mantan cowonya itu. Namun bagi saya teman saya itu cukup berani dan tabah untuk bisa sampai pada level itu.

Lalu beberapa minggu lalu, pemandangan yang sama juga saya lihat. Kali ini pada adik saya, yang dengan riang dan tanpa beban ngobrol dan becandaan di BBM sama mantannya yang juga pernah menyakiti dia beberapa tahun yang lalu. Saya sangat iri melihat mereka bisa berlaku layaknya teman lama dengan mantannya. Saya sangat yakin diperlukan keikhlasan dan kerelaan untuk bisa sampai di titik itu. Bagi saya adik saya dan teman saya itu adalah contoh manusia yang sabar dan ikhlas menghadapi kenyataan.

Melihat itu, saya jadi melihat ke diri saya. Sudahkah saya se-legowo mereka menerima dan menghadapi kenyataan?? Sudahkah saya seikhlas dan dan sesabar mereka menghadapi masalalu?? Melihat itu, aku jadi ingat kamu, yaa kamu. Yang dulu pernah menjadi teman terbaikku. Lalu pada suatu ketika bersepakat untuk menjadi kita. Dan setelahnya kamu memutuskan segalanya secara tibatiba. Manusiawi kan kalau mendengar keputusanmu dulu aku sangat kecewa, benci, marah, sedih, bahkan mungkin hancur. Tapi setelah semuanya reda aku sadar bahwa semua itu tidak perlu dan aku memberanikan diri untuk meminta maaf. Namun yang kudapat adalah diammu yang memuakkan sampai hari ini.

Saat ini, sejujurnya yang paling kusesali adalah kehilangan kamu sebagai temanku. Karena denganmu aku telah belajar banyak hal dan aku ingin terus begitu. Sejujurnya yang paling kuinginkan saat ini adalah kita bisa kembali bertaman seperti dulu. Saling menyapa, saling bercerita, saling berbagi tulisan dan foto persis seperti dulu, tidak lebih. Namun tiap kali aku berusaha menyapa yang kutemui adalah orang asing dengan tatapan angkuh penuh kesombongan, bukan kamu yang kukenal dahulu.

Pada titik itu, aku cuma bisa ikhlas menerima kenyataan. Menghadapinya dengan tabah, serta berusaha bersikap dewasa. Memahami bahwa tidak semua inginku harus terwujud. Bahwa tidak semua niat baik bisa juga dipahami dan diterima orang lain dengan baik pula. Pada titk itu pula, aku menyimpulkan bahwa tidak selalu orang yang lebih tua itu telah juga dewasa. Dan tidak selalu pula bahwa yang lebih muda itu belum dewasa. Karena ternyata umur bukanlah jaminan kedewasaan manusia.

Seperti sebuah quote yang pernah kubaca :

“Menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu pilihan”.

alone