Image
0

Kebahagiaan

e48946aae36ca4f2eb024b3bc7a3d20b-d15grkp

Kebahagiaan, apakah kebahagiaan?
Tahukah kau dimana ia tinggal?

Kebahagiaan suatu hari pernah datang
mewujud seseorang yang katanya mencintai
mencintai dengan segenap hati
Dengannya aku pernah berani punya mimpi
tentang bintang dan sebuah rumah di masadepan

“aku mencintai kamu yang sekarang dan di masa-masa yang akan datang”
bilangnya padaku suatu waktu
dan begitu saja aku percaya

Pada saat yang lain kebahagiaan juga pernah datang
mewujud seseorang lainnya
yang dengannya aku bisa bercerita apa saja
apa saja yang terlintas di benak

“kita adalah teman yang akan menggenapi satu dengan lainnya”
begitu bilangnya suatu  waktu
dan lagi..begitu saja aku percaya

Lalu pada akhirnya….mereka menghilang
menghilang entah kemana
entah karena sebab apa atau bagaimana
yang kutahu bahwa jatah kebersamaanku dengan mereka telah selesai

Lalu, apakah kebahagiaan??
dimanakah ia tinggal??

Kebahagiaan ada didalam diri
ia ada didalam segala hal
segala hal yang bisa kau rasakan

Kebahagiaan adalah tentang bagaimana kau menemukan sudut pandang terbaik
dari segala hal yang kau lihat dan rasakan

 

Note:
Tulisan ini terinspirasi dari salah satu percakapan Alexander Supertramp dan Ron Franz di film Into The Wild

 

Image
0

Permainan Jadul

MyLikes0204-01

Anak-anak bermain lompat tali di halaman sekolah (foto rere)

Jaman saya kecil dulu ada begitu banyak permainan tradisional yang biasa saya mainkan bersama teman-teman. Dulu saya begitu menyukai permainan seperti petak umpet, bongkar pasang, rumah-rumahan, lompat tali, masak-masakan, bekelan, patahan, dan masih banyak lagi. Semua permainan itu benar-benar sangat tradisional, simpel dan indonesia banget. Dari semua permainan itu saya paling suka dengan bekelan. Biasanya saya memainkan permainan bekelan di teras depan rumah bersama beberapa teman kecil saya.

permainan-jadul_6

Picture from google

Permainan bekelan ini dimainkan menggunakan sebuah bola bekel dan paling sedikit lima buah biji bekel berbentuk logam. Ada yang terbuat dari kuningan, ada pula yang terbuat dari bahan timah. Permainan ini dilakukan dengan cara menyebar seluruh biji bekel dan melempar bola keatas dan menangkapnya setelah bola memantul di lantai. Kalau bola tidak tertangkap atau memantul beberapa kali maka pemain dinyatakan mati dan harus bergantian dengan teman mainnya.

Di jaman modern seperti sekarang ini sudah jarang atau bahkan sudah tidak ada anak-anak kecil yang memainkan permainan tradisional seperti itu. Saya bahkan tidak yakin bahwa masih ada anak-anak jaman sekarang yang mengenal permaian-permainan tadi. Di era cyber seperti sekarang ini anak-anak lebih menyukai dan mengenal game-game komputer seperti Angry Bird, atau game-game playstation yang kian marak menenggelamkan permainan-permainan tradisioanal. Sangat disayangkan memang bahwa permainan-permainan tadi hilang begitu saja.

Photo0691

Salah satu foto hasil masak-masakan (foto rere)

Beberapa hari lalu saya menemukan beberapa anak di sekolah baru tempat saya mengajar masih ada yang memainkan salah satu permaian tradisional tadi, yaitu masak-masakan. Saya melihat anak-anak tersebut dengan asiknya mengiris daun-daun, bunga warna merah dan buah nangka muda untuk dijadikan sayur dan dimasak (masak-masakan). Tanah liat sebagai nasinya dan air putih yang entah dicampur apa sehingga berwarna coklat menyerupai air teh. Sedangkan peralatan masak-masakan tersebut seperti piring-piringan, gelas-gelasan, sendok dan lain sebagainya mereka bawa dari rumah. Benar-benar niat memainkan permainan ini, pikirku.

Dalam hati ada rasa senang juga bahwa ada beberapa anak yang masih dengan setia memainkan permainan tradisional tersebut. Sayang banget kalau permainan-permaian tersebut cuma tinggal ceritanya saja atau bahkan dilupakan begitu saja. Karena sejatinya permainan-permainan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia itu kaya akan ragam budayanya.

Image
0

Dia, Tujuh Belas Tahun Kemudian

Alone_by_homigl14

Picture from Deviantart.com

Dia tumbuh, tumbuh, tambah tumbuh
Dan kini sudah jadi seorang gadis seperti kamu, cantik
Tapi dia tidak mampu tersenyum, bahkan dalam hati

Setiap hari dia pelajari hal-hal baru
Misalnya, cara-cara sederhana meluapkan kebahagiaan

Setiap hari dia juga pelajari kembali hal-hal lama
Misalnya, cara-cara sederhana melupakan kesedihan
Dalam hidupnya, keduanya sama-sama penting

Dia tumbuh, tumbuh, tambah tumbuh
Dan kini sudah jadi seorang gadis seperti kamu, manis
Tapi dia tidak mau menangis, bahkan dalam hati

Setiap malam dia katakan pada ibunya
:“jangan terlalu banyak menangis, ibu, aku tak tahu berenang.”
Setiap malam ia bertanya kepada Tuhan
:“aku mencintai masa kecil dan kehidupan, tapi kenapa dirusak orang?”

 

Note :
Salah satu puisi yang menurut saya ngena banget. Saya dapet puisi tersebut dari website seorang teman yang sayangnya sekarang udah ditutup. Puisi tersebut bukan karya teman saya. Dan sayangnya lagi saya lupa nama penulis puisi tersebut. siapapun penulisnya, saya mohon ijin untuk posting di blog saya. Makasih 🙂

 

Image
0

Tidak Berjudul

417577_164997390280628_401908588_n

Seperti terkurung di masalalu
dengan gambar usang terpasang dimanamana
candamu, tawamu, senyummu, kisah-kisahmu
terus ada diantaranya

Seperti menjadi tawananmu
terkurung di ruang gelap didalam ingatanmu
tanpa sedikitpun celah untuk dapat melihat kau bertumbuh
tanpa pernah berkesempatan menyaksikan masa depanmu

-201501180285-

Image
0

Untittled

just_a_little_boy_by_zznzz-d4ijb9t

Picture from Devianart.com

Seperti seorang bocah dengan kaki telanjang yang menjajakan koran setiap pagi. Berdiri di depan etalase sebuah toko. Mengamati bajubaju mewah yang di pajang satu demi satu. Ketika pada akhirnya dia menemukan satu yang disukainya, yang bisa dilakukan hanya memandanginya, mengagumi, lalu melupakan keinginan untuk memilikinya. Karena dia cukup tau diri bahwa keinginannya hanya ilusi. Semakin dia menginginkan, maka akan semakin menyiksa diri. Jadi, begitulah hidup baginya : melihat, mengamati , dan lupakan.

Image
2

WS Rendra, Sajak Cinta Ditulis Pada Usia 57

letters_for_you_by_silvermoonswan-d5qjpfp

Setiap ruang yang tertutup akan retak
karena mengandung waktu yang selalu mengimbangi
Dan akhirnya akan meledak
bila tenaga waktu terus terhadang

Cintaku kepadamu Juwitaku
Ikhlas dan sebenarnya
Ia terjadi sendiri, aku tak tahu kenapa
Aku sekedar menyadari bahwa ternyata ia ada

Cintaku kepadamu Juwitaku
Kemudian meruang dan mewaktu
dalam hidupku yang sekedar insan

Ruang cinta aku berdayakan
tapi waktunya lepas dari jangkauan
Sekarang aku menyadari
usia cinta lebih panjang dari usia percintaan
Khazanah budaya percintaan…
pacaran, perpisahan, perkawinan
tak bisa merumuskan tenaga waktu dari cinta

Dan kini syairku ini
Apakah mungkin merumuskan cintaku kepadamu

Syair bermula dari kata,
dan kata-kata dalam syair juga meruang dan mewaktu
lepas dari kamus, lepas dari sejarah,
lepas dari daya korupsi manusia
Demikianlah maka syairku ini
berani mewakili cintaku kepadamu

Juwitaku
belum pernah aku puas menciumi kamu
Kamu bagaikan buku yang tak pernah tamat aku baca
Kamu adalah lumut di dalam tempurung kepalaku
Kamu tidak sempurna, gampang sakit perut,
gampang sakit kepala dan temperamenmu sering tinggi
Kamu sulit menghadapi diri sendiri
Dan dibalik keanggunan dan keluwesanmu
kamu takut kepada dunia

Juwitaku
Lepas dari kotak-kotak analisa
cintaku kepadamu ternyata ada
Kamu tidak molek, tetapi cantik dan juwita
Jelas tidak immaculata, tetapi menjadi mitos
di dalam kalbuku

Sampai disini aku akhiri renungan cintaku kepadamu
Kalau dituruti toh tak akan ada akhirnya
Dengan ikhlas aku persembahkan kepadamu :

Cintaku kepadamu telah mewaktu
Syair ini juga akan mewaktu
Yang jelas usianya akan lebih panjang
dari usiaku dan usiamu

Image
4

Kembali, Bagian #4

Together_by_ti_dw

Picture from Deviantart

Hari ini, seperti yang telah ia janjikan, Daniel mengajakku ke sebuah pameran fotografi. Setelah melewati macetnya kota Jakarta yang teramat panjang, sampailah kami di sebuah gedung menjulang tinggi dengan hall yang sangat luas. Di setiap sudut ruangan bercat putih yang luas itu terpajang foto-foto dalam format black and white. Pameran yang bertajuk “Indonesia : manusia dan kebudayaan” itu menampilkan foto-foto yang bertema keberagam budaya bangsa Indonesia. Aku yang masih sangat awam dengan fotografi ini melihatnya dengan takjub.

“Weehh..kereennnn bangetttt nih, Dan” ucapku takjub

“Udaahh, biasa aja kale” balas Daniel sembari sibuk dengan smartphone di genggamannya

“Sibuk bener sih lo. Mau liat pameran foto apa mau BBM-an sih lo kesini? Heraannn deh gue” balasku sewot

“Sewot lo ah. Gue tu lagi hubungin temen gue. Gue kan udah janjian sama dia disini. Tapi kok belum keliatan juga batang hidungnya” balasnya lagi masih tetap sibuk dengan hp nya

“Yaudah, gue muter-muter duluan aja ye” jawabku

Semakin siang, semakin ramai. Semakin banyak orang berdatangan. Aku pun semakin asik mengamati tiap foto yang terpajang di ruangan ini. Tanpa Daniel aku mengamati foto demi foto yang ada, sambil sesekali mengalihkan pandanganku pada lalu-lalang orang-orang di ruangan ini. Mengarahkan lensa kameraku pada beberapa sudut yang menurutku unik dan memotretnya.

Diantara hiruk pikuk orang-orang yang saling berebut oksigen di ruangan ini, aku tertegun melihat pada satu sosok yang sangat ku kenal, Arga. Dia berada di salah satu sudut ruangan ini. Tengah asik berbincang sambil sesekali tertawa dengan salah seorang temannya. Selalu saja ada rasa yang tak bisa ku mengerti tiap kali aku melihatnya. Bahagia namun juga sedih pada saat bersamaan. Bahagia karena bisa melihat lagi sosoknya dan menyaksikan bahwa dia baik-baik saja. Sedih karena ketidakmungkinan yang ada diantara kami.

Melihatnya lagi saat ini, membawa ingatanku pada hari-hari di masalalu. Saat-saat ketika setiap hari aku bisa dengan mudah menyaksikan setiap geraknya. Mendengarkan suaranya. Menikmati tawa renyahnya. Lalu mengabadikannya di dalam ingatanku.

“Missyou, Ga” bisikku dalam hati

Dengan mata berkaca-kaca dan perasaan yang entah tak bisa kulukiskan dengan kata-kata, aku masih saja memperhatikannya dari kejauhan. Memotret setiap geraknya dengan lensa kameraku. Mengabadikannya disana, untuk suatu saat bisa ku buka lagi gambar-gambarnya ketika aku merindukannya.

“Woi..ngelamun aja lu” ucap Daniel yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku

Reflek aku menghadap kearahnya masih dengan air mata mengalir di pipiku

“Iih nangis dia. Baru gue tinggal sebentar udah nangis aja nih orang” lanjutnya lagi dalam nada mengejek

“Apa sih lo” balasku sembari mencoba menyeka air mataku

“Lo kenapa sih nangis?” tanya Daniel heran

“Ga papa” jawabku singkat

“Are you okay?” tanya Daniel lagi, kali ini dengan raut muka serius

Aku mengangguk mengiyakan bahwa aku baik-baik saja.

Aku kembali melangkahkan kakiku, mencoba menghindari Daniel agar dia tidak mengintrogasiku lebih detail lagi tentang alasanku menangis. Dan seperti dugaanku, Daniel kembali sibuk setelah salah seorang temannya menyapanya. Dari kejauhan kulihat mereka sama-sama tertawa, entah karena lelucon apa. Untuk menetralisir rasa sedihku, aku mencoba mengamati lagi foto-foto di ruangan ini. Kumati lagi satu persatu foto-foto yang terpajang di dinding bercat putih itu. Sampai pada akhirnya sebuah sentuhan di pundakku bersama suara yang sangat ku kenal memanggil namaku.

“Re…” suara beratnya memanggil namaku

Reflek aku menoleh ke arah suara. Dan di hadapanku sekarang sudah berdiri oarang yang sejak tadi kuperhatikan dan ku potret setiap geraknya dari kejauhan. Orang yang beberapa menit lalu sempat membuatku terisak karena mengingatkanku pada masalalu yang sudah tak bisa ku genggam lagi. Arga, dia di hadapanku sekarang dengan senyum mengembang di bibir tipisnya. Dari matanya bisa ku lihat ada binar bahagia disana.

“Senang bisa melihatmu lagi, Re..” bilangnya lagi dengan mata berbinar

Aku hanya tertegun. Hanya diam. Antara kaget dan bingung harus berucap apa. Seketika itu pula jantungku berdetak semakin kencang. Nervous, begitu mungkin kalimat yang pas untuk menggambarkan keadaanku.

“Kamu sendirian aja, Re??” tanyanya

“Iya..” jawabku singkat

“Kita duduk dan ngobrol-ngobrol yuk” ajaknya

“Maaf, Ga. Aku harus pergi” jawabku

“Pliss, Re. Jangan menghindar dariku lagi. Aku tahu kamu masih sangat peduli terhadapku. Aku tahu dari tadi kamu memperhatikanku. Berhentilah berpura-pura, Re. Jujurlah pada hatimu!” bilangnya dalam nada yang semakin tinggi

Aku mencoba memalingkan tubuhku. Melangkah meninggalkannya. Tapi dia terus mengejarku.

“Re, pliss. Kali ini aja” pintanya sembari mencoba menggenggam tanganku

Aku terus berjalan dalam langkah yang semakin cepat. Arga terus saja mengikuti di belakangku sembari menggenggam erat tanganku. Aku terus berjalan menjauh dari keramaian. Melangkahkan kakiku, meninggalkan hall yang luas itu. Lalu sampailah kami di halaman gedung. Dan Arga masih saja mengikutiku.

“Mau kamu apa, Ga?” tanyaku sembari menghentikan langkahku dan menghadap kearahnya

“Aku ingin kita kembali seperti dulu” jawabnya

“Untuk apa??? Semua udah ga ada gunanya. Semua udah berakhir, Ga” bilangku dengan suara serak karena menahan tangis

“Kita bisa memulai semuanya lagi dari awal, Re. Aku masih sangat menyayangimu” bilangnya lagi

“Lalu ibumu??” tanyaku lagi

“Kita harus berjuang bersama-sama untuk membuktikan bahwa rasa cinta yang kita miliki lebih besar dari ketidak setujuannya yang sangat tidak masuk akal itu. Kita harus berjuang bersama-sama untuk itu, Re” bilangnya dengan penuh kesungguhan, sambil terus menggenggam tanganku

Aku kembali hanya tertegun. Diam. Tidak tahu harus berkata apa lagi.

“Kamu mau kan, Re?? plisss!!” pintanya lirih sambil mencium kedua tanganku

Kutatap ke dua matanya. Ada air mata yang mengalir disana. Terus menderas membanjiri pipinya. Disana pula kulihat kesungguhan, keyakinan, keberanian dan cinta yang teramat besar. Dan tak ada lagi alasan bagiku untuk menghindar darinya. Karena hati kecilku telah berucap dengan tegas.

“Hadapi. Terima dia kembali!” Ucap hati kecilku tegas.

“Yang jatuh dan yang tumbuh,
Telah kembali bersama dalam dekap kehangatan
Kehidupan”

-Poem by Avivalyla-

T A M A T

Image
0

Maka Diamlah!

IMG_2439967741306

Tak perlu lagi bertanya mengapa
Sebab semua tanya hanya akan berlalu
layaknya angin berhembus
Sekencang apapun ia mengemuka
tak akan pernah ada jawab

Tak perlu lagi berfikir ini ataupun itu
Sebab semua asumsi hanya tersisa asumsi semata
Hanya akan mengotori hati
menambah beban pikiran

Maka diamlah, cukup diam dan berlalu
Sebab semua telah terkunci rapat
hati, otak, gerak, begitupun mulut
Semua telah bisu

Berhentilah bertanya dan berfikir
tentang hal yang percuma
Sebab hidup ini terlalu singkat
untuk hanya sekedar berkutat pada satu titik saja