Image
0

I Miss That Morning

DSC_0116

Advertisements
Image
2

WS Rendra, Sajak Cinta Ditulis Pada Usia 57

letters_for_you_by_silvermoonswan-d5qjpfp

Setiap ruang yang tertutup akan retak
karena mengandung waktu yang selalu mengimbangi
Dan akhirnya akan meledak
bila tenaga waktu terus terhadang

Cintaku kepadamu Juwitaku
Ikhlas dan sebenarnya
Ia terjadi sendiri, aku tak tahu kenapa
Aku sekedar menyadari bahwa ternyata ia ada

Cintaku kepadamu Juwitaku
Kemudian meruang dan mewaktu
dalam hidupku yang sekedar insan

Ruang cinta aku berdayakan
tapi waktunya lepas dari jangkauan
Sekarang aku menyadari
usia cinta lebih panjang dari usia percintaan
Khazanah budaya percintaan…
pacaran, perpisahan, perkawinan
tak bisa merumuskan tenaga waktu dari cinta

Dan kini syairku ini
Apakah mungkin merumuskan cintaku kepadamu

Syair bermula dari kata,
dan kata-kata dalam syair juga meruang dan mewaktu
lepas dari kamus, lepas dari sejarah,
lepas dari daya korupsi manusia
Demikianlah maka syairku ini
berani mewakili cintaku kepadamu

Juwitaku
belum pernah aku puas menciumi kamu
Kamu bagaikan buku yang tak pernah tamat aku baca
Kamu adalah lumut di dalam tempurung kepalaku
Kamu tidak sempurna, gampang sakit perut,
gampang sakit kepala dan temperamenmu sering tinggi
Kamu sulit menghadapi diri sendiri
Dan dibalik keanggunan dan keluwesanmu
kamu takut kepada dunia

Juwitaku
Lepas dari kotak-kotak analisa
cintaku kepadamu ternyata ada
Kamu tidak molek, tetapi cantik dan juwita
Jelas tidak immaculata, tetapi menjadi mitos
di dalam kalbuku

Sampai disini aku akhiri renungan cintaku kepadamu
Kalau dituruti toh tak akan ada akhirnya
Dengan ikhlas aku persembahkan kepadamu :

Cintaku kepadamu telah mewaktu
Syair ini juga akan mewaktu
Yang jelas usianya akan lebih panjang
dari usiaku dan usiamu

Image
0

Mengapa???

from_the_bottle_of_my_heart_by_lieveheersbeestje-d4xprmz

Picture from Deviantart

Benarkah terus mencintai seseorang meski ia sudah tidak lagi mencintai kita adalah sebuah kesalahan besar hingga kita patut dibenci karena perasaan cinta itu?? Benarkah terus mencintai seseorang meski orang tersebut tidak lagi mencintai kita adalah bukti bahwa kita belum ikhlas atas berakhirnya kisah yang dulu pernah terjalin??? Atau salahkah jika kita terus menyimpan dengan rapi semua kisah yang pernah terjalin dengan seseorang yang pernah dan masih kita cintai dan pernah sangat mencintai kita??? Jika semua memang sebuah kesalahan, dimana letak kesalahannya???

Bukankah mencintai adalah hak asasi kita sebagai manusia??? Bukankah semua sah-sah saja selama kita cukup tahu diri bahwa seseorang itu memang tidak lagi mencintai kita. Dan kita cukup menyimpan dengan rapi perasaan itu. Cukup kita dan Tuhan sang maha menggenggam yang tahu seberapa besar perasaan tersebut. Bukankah semua perasaan yang kita rasakan termasuk cinta adalah juga karunia Tuhan.

Lalu pantaskah kita menghakimi dan menghentikan seseorang agar tidak mencintai kita lagi dengan cara yang menyakitkan hatinya, melukai perasaannya. Mempermalukan ia di depan banyak orang hanya karena di matamu ia salah dengan terus mencintaimu. Hanya karena menurut pendapatmu ia salah besar karena belum bisa mengikhlaskanmu pergi darinya??? Tak bisakah kau melihat sesuatu itu dari tempat ia berdiri. Agar mungkin bisa kau pahami apa yang ia rasakan??? Atau tak bisakah kau berfikir bahwa perasaan itu adalah karunia Tuhan dan hanya Tuhan yang dapat menghentikannya??? Tak bisakah kau berfikir bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri menghadapi masalahnya. Dan mungkin itu satu-satunya cara yang ia bisa??? Aaahhhh….betapa sombong dan angkuhnya dirimu. Bukankah Tuhan sang maha segalanya juga tak jumawa. Tidakkah kau malu terhadapNya???

Dan aku benar-benar sangat marah mendengar kisah seperti itu. Sebagai manusia aku sangat tidak setuju ada manusia yang berusaha menghentikan perasaan cinta manusia lain dengan cara yang sangat keterlaluan dan terlampau sombong. Karena bagiku, bukan hak kita menghentikan perasaan orang lain terhadap kita. Karena setiap manusia memiliki hak yang paling asasi, hak untuk mencintai. Dan menurutku selama apa yang ia lakukan tidak merugikan, semua itu fine aja. Tidak ada yang salah dengan perasaan itu. Begitu.

Image
0

Thank You, January

“Everything going so fast, in the blink of an eye”

Januari yang basah itu kini akan segera pergi. Hari ini ia telah genap tiga puluh satu hari. Dan seperti ketentuannya, ia akan pergi di penanggalan ini. Ia selalu tepat waktu. Ia juga tak pernah ingkar janji. Datang dengan rintik, berlalu dalam basah dan dingin. Begitu cepat waktu berlalu.

Ada banyak hal yang telah aku lalui bersama Januari. Hari-hari pertamaku bersama Januari cukup melankolis. Ada banyak hal dari Desember yang belum bisa aku lepaskan. Belum bisa aku ikhlaskan. Namun Januari, dengan ikhlas dan sabar menerimaku, mengajari banyak hal di setiap hariku. Seperti seorang ibu yang dengan naluri keibuannya, dengan sabar menuntun anaknya yang masih bocah melihat dunia. Menjawab setiap tanya yang tiap kali terlintas di pikiran anaknya. Mengisi ruang-ruang kosong dalam diri bocah kecil itu dengan pengetahuan. Hingga pada waktunya ia siap melihat dunia dengan pengetahuan yang ia miliki.

Januari dengan derai hujannya telah mengajariku ketegaran. Dengan dinginnya, ia seolah berkata bahwa sedingin apapun hari haruslah tetap di lalui. Tidak ada kata berhenti. Tidak ada kata menyerah. Karena hidup haruslah terus berjalan. Pada Januari, aku juga belajar tentang ikhlas melepaskan segala sesuatu yang sudah di luar batas kendaliku. Dengan kehadirannya di awal bulan dan kepastian akan kepergiannya di akhir bulan, ia membuka mataku bahwa awal dan akhir adalah sebuah keniscayaan. Dan akan terus begitu seterusnya. Berputar menjadi sebuah siklus dalam hidup.

Selamat jalan, Januari. Semoga kita masih akan dipertemukan lagi di tahun-tahun yang akan datang. Dengan kisah-kisah yang lebih indah dan membahagia. And eh… thank you for all the lessons, January. Maybe, i need to say…missyou already and hug you tight,haha.

rain_lights_by_kateey-d3i3m7p