Image
0

A Cup Of Coffe This Morning

DSC_0058

Advertisements
Image
0

Kembali, Bagian #3

“udaaahh..jangan dipandangin foto-fotonya aja. Terima kembali orangnya, baru oke” ledek Daniel  yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang tempat dudukku, di salah satu sudut coffe shop langganan kami.

“apa sih lu..”jawabku sewot

“gue cuma pengen liat temen gue ini bahagia. Kalau lu bahagia kan gue ga perlu sibuk-sibuk menghibur lu” ucapnya lagi sambil tergelak

“oooooo..jadi selama ini gue tu ngrepotin lu gitu. Okeeee…..ga lagi-lagi gue curhat sama lu,huuuhh” ucapku masih dalam nada sewot

“hahahaha….marah dia” ucapnya tergelak

Daniel menyesap kopi yang telah ku pesankan beberapa menit sebelum ia datang. Sambil sesekali memperhatikan aku yang masih asik dengan tablet dihadapanku.

“kenapa sih lu masih aja ga yakin sama cowo yang nyata-nyata masih sayang banget sama lu. udah nungguin lo sekian tahun. Terus sekarang kalian dipertemukan lagi. Jarang lho ada cowo kaya gitu, Re. Kalau gue jadi dia nih ya, gue udah ninggalin lu dari dulu” ucapnya kali ini dalam nada serius

“hmmmm…. gimana ya. Sebenernya gue bukannya ga yakin sama dia, Dan. Bukannya ga cinta sama dia. Tapiiii…. gue ga yakin pantes buat dia. Gue masih inget ucapan ibunya dulu. Kalau Arga itu keturunan darah biru. Ga pantes perempuan biasa kaya gue jadi pendamping dia” ucapku getir

“yaelah, Re. Hari gini masih mikirin darah biru, kuning, ijo, ato merah. Kalau cinta ya cinta aja. Ga perlu alasan lain. Ini tu tahun 2014 Masehi, Re. Bukan 2014 sebelum masehi. Ga usah mikirin nyokapnya setuju ato enggak. Yang terpenting Arga cinta sama lu, dan dia mau memperjuangkan cinta kalian. Sekarang tinggal elunya” ucapnya lagi kali ini lebih serius

“tapi masalahnya orang Solo kan emang kaya gitu, Dan. Mereka sangat peduli dengan bibit bebet bobot. Dan mengacu pada itu semua, aku tu sama sekali ga masuk kriteria mereka” jawabku

“bego lu…udah dibilangin, kalo cinta ya cinta aja. Tinggal kaliannya mau berjuang bersama-sama ato enggak. Kalau kalian mau berjuang bersama-sama, kalian pasti akan menang. Tapi kalau kamunya memilih kalah kaya sekarang ya nyokapnya Arga yang menang ”ucapnya berapi-api

Aku terdiam. Mencoba mencerna semua ucapan Daniel. Mengalihkan pandanganku ke jalanan di luar coffe shop. Mataku menerawang. Mengingat semua kebaikan Arga, kegigihannya, keyakinannya, kesabarannya dan cintanya yang tak pernah putus terhadapku.

*

“cinta itu kesabaran, keyakinan dan keberanian. Cinta itu tidak putus asa” begitu kira-kira kicau Arga di jejaring sosial twitter.

Membaca kalimat itu rasanya sedih. Ada nyeri didalam hatiku. Ingin rasanya aku menyerah dengan keangkuhanku dan berlari kepadanya. Berjanji untuk terus bersama-sama melewati apa saja. Mewujudkan mimpi-mimpi kami dahulu. Membuktikan pada ibunya bahwa cinta yang kami miliki lebih besar dari ketidak setujuannya.

love_by_toxiclovekid-d4ju4la

Bersambung….

 

0

Selamat Tinggal, Dear Coffee

“Terkadang kita harus meninggalkan sesuatu bukan karena kita tidak lagi mencintai sesuatu itu, tapi terkadang kita harus pergi lebih karena untuk kebaikan semua”.

Beberapa hari ini saya benar-benar harus bedrest. Dan benar-benar kalah oleh rasa sakit di perut saya yang sama sekali tidak bisa saya tolelir. Perih, mual, kembung, panas, lengkap semua. Saking sakitnya semalam suntuk saya ga bisa tidur, bener-bener nikmat deh rasanya,hihihi. Setelah saya priksain ke dokter ternyata maag akut saya kumat lagi. Kalo udh kaya gini jadi ngerasa berharga banget deh yang namanya sehat.

Terakhir rasa sakit ini menyerang tubuh saya adalah beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2006. Udah lama banget yah. Waktu itu saya masih ngekost di Semarang. Wah ngerepotin semua orang di kost  tuh. Waktu itu yang saya rasain malah lebih parah dari ini. Sampe priksa di beberapa dokter dan tidak juga sembuh. Namun pada akhirnya nemuin dokter yang pas juga dan diberi kesembuhan sama Tuhan. Amiinnn.

Selama saya bedrest di rumah dan ninggalin tugas saya bermain-main dengan anak-anak lugu yang ngangenin di kampung sono, saya jadi mengingat-ingat penyebab penyakit ini kambuh lagi. Diantaranya adalah keteledoran saya yang menganggap sepele sarapan, menganggap sepele minum kopi kesukaan saya. Saya adalah pecinta kopi. Hidup tu ga lengkap tanpa kopi. Kopi itu buat saya bisa jadi sebagai mood boster. Nha beberapa hari lalu tu saya beberapa kali minum kopi. Karena cinta saya sama kopi, saya ga mikir kalau akibatnya bakal sefatal ini.

Nha mulai dari sini saya memang harus berhati-hati dengan makanan. Dengan terpaksa dan berat hati saya harus ninggalin kopi, sambel dan kawan-kawannya yang menurut dokter adalah penyebab penyakit maag. Seberapapun cinta saya sama kopi dan sambel harus tetap saya tinggalkan. Bukan karena saya tidak lagi cinta, tapi lebih untuk kebaikan kesehatan saya kedepannya. Kalau saya mau hidup saya tetap baik-baik ya harus nurut. Selamat tinggal kopi dan sambel.

Memang benar bahwa segala hal di dunia ini akan selalu ada resikonya. Setiap pilihan akan selalu ada konsekuensinya. Yang terpenting dari semua adalah melihat pada sisi baiknya. okesipp.

Pic by Ernanda Putra

Image
0

Tentang Januari

Januari kembali datang, hari ini ia telah genap berumur tiga belas hari. Masih seperti januari-januari yang lalu, rinai hujan begitu setia menemani. Hujan dan januari adalah pasangan yang serasi. Seperti telah bersepakat, keduanya begitu serasi berjalan beriringan. Hari-hari dalam Januari, hampir selalu diguyur hujan atau hanya sekedar gerimis. Seperti pagi ini, hujan telah setia menyapa pagiku dengan rinainya. Tanah menjadi basah, daun-daun kembali basah, semua di jagat raya kembali basah.

Aku telah berkenalan dengan banyak januari sepanjang hidupku. Tapi bagiku januari kali ini adalah januari yang begitu mengena. Bukan karena apa-apa ataupun siapa-siapa. Semua begitu berarti karena aku telah sedikit banyak memahami arti itu sendiri. Awal tahun ini ada beberapa hal yang membuka pandanganku tentang hidup dan kehidupan, tentang iklas, tentang kesabaran, tentang hakikat manusia dan kematian, tentang banyak hal yang semuanya membuka mataku dan membuatku menyadari semuanya.

Tidak ada resolusi tahun ini, aku dan hatiku telah bersepakat untuk hanya menjalani semuanya. Membiarkan semua mengalir seperti air. Tidak perlu banyak keinginan dan harapan. Hanya jalani dengan sebaik-baiknya, itu cukup. Memiliki banyak keinginan dan harapan hanya akan menyakitkan ketika semua tidak berjalan seperti yang diharapkan. Jadi cara terbaik adalah dengan menjalaninya.

golden_shine_by_silvermoonswan-d5m0hht

Image

Someday We’ll Know

“90 miles outside Chicago
Can’t stop driving I don’t know why
So many questions I need an answer
Two years laterYou’re still on my mind…”

Pernahkah kamu menyempatkan untuk bertanya kenapa kita harus bertemu? Kebaikan atau kesalahan di masa lalu yang mana yang menakdirkan kita akhirnya harus saling bertemu? Kenapa aku harus duduk di depan bar itu, memesan kopi yang ketiga, sampai kemudian kamu datang dan menyapa? Kenapa aku harus berkunjung ke kantormu lalu kita berbagi oksigen di dalam tabung lift yang sama, sampai berkali-kali?

Lalu, pernahkah kamu bertanya, mengapa kita harus berpisah? Mengapa setelah semua kebetulan-kebetulan kecil yang akhirnya mengantarkan kita berdua di sebuah kafe dan saling menyapa, menukar nomor telepon, dan berjanji untuk bertemu seminggu kemudian, tapi kita malah memutuskan untuk saling menempatkan jeda? Mengapa setelah kita bersusahpayah membangun our castle of sand, lalu kamu berubah menjadi seperti ombak yang menjilati pinggiran pantai; meruntuhkan istana pasir kita dalam sekejab saja?

I can’t stop asking all those questions. Kenapa kita harus bertemu, lalu berpisah? Kenapa kita hanya diberi jatah sebanyak seratus tiga puluh dua hari saja untuk menikmati cinta yang merah muda, lalu kebahagiaan itu direnggut terpaksa?

Sambil menikmati secangkir kopi, di pantry kantor, sahabatku pernah bilang, “You’ll never know the answers. You’re living the answers. Hidup lo nanti, adalah jawaban dari segala pertanyaan-pertanyaan ‘kenapa begini, begitu’ lo itu.”

Dia benar. Setelah semua ini usai, harusnya aku tahu kenapa kita dulu harus bertemu untuk kemudian berpisah tak lama setelah itu. Setelah semua ini usai, aku akan tahu kenapa dunia susah payah berkonspirasi untuk mempertemukan kita lalu mengacaukan semuanya. Ya, setelah semua ini usai, katanya, aku bakal tahu.

Tapi, itu kalau ‘usai’. Bagaimana kalau sampai hari ini aku tidak pernah merasa ‘usai’ denganmu?

“Someday we’ll know if love can move a mountain
Someday we’ll know why the sky is blue
Someday we’ll know why I wasn’t meant for you

Someday we’ll know why Samson loved Delilah
One day I’ll go dancing on the moon
Someday you’ll know that I was the one for you…” 

Masih kubaca email-emailmu. Masih kudengarkan CD kompilasi lagu-lagu favoritmu, yang tiap kali kau hadiahkan untukku.

Masih kulihat film Serendipity kesukaanmu, sekadar untuk mengulang kebersamaan kita di depan televisi apartemenmu, di suatu masa lalu.
Masih nelangsa saat tahu kamu menangisi perpisahan kita, waktu itu.

Masih kulakukan semua kebiasaan yang tidak membawaku beranjak dari masa lalu. Like doing some traveling to the future with you inside my suitcase. Aku seolah ingin berlalu, tapi masih mengajakmu di dalam setiap jengkal ingatanku.

Jadi, kapan bisa kujawab pertanyaan itu? That someday I’ll know why I wasn’t meant for you? That someoday you’ll know that I was the one for you? Kalau kamu masih tinggal di setiap jengkal hidup dan ingatanku
Kalau kamu masih menjadi segalanya untukku?

d43bcf622b37dc84352fc7211337ff11

a song someday we’ll know by Mandy Moree from A walk to remember the movie

Image
0

Aku Memanggilnya, Dee

Februari kembali hadir bersama sisa-sisa hujan Januari yang dingin. Februari yang malam-malamnya diliputi kebekuan karena dingin yang mencekam akibat  hujan membadai. Aku selalu ingat pada pagi itu. Pagi yang berkabut dan dingin di langit kalbuku. Tak ada cahaya matahari. Hening tapi tak terasa damai. Sesekali terdengar  tetesan gerimis di luar jendela kamarku…tik tik tik. Lalu memecah sunyi lamunanku. Masih awan mendung yang menghiasi di luar jendela kamarku. Mendung yang sebenarnya telah lelah ku saksiakn tiap pagiku tiba.

Pada sebuah pagi di hari ke Sembilan bulan februari, sebuah wajah hadir di hening pagiku. Ia tersenyum menatapku. Ia mendekat lalu menyapaku “ halo selamat pagi, apa kabarmu?” lalu sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Sangat indah. Seperti mentari yang telah lama kurindukan hadirnya untuk menerangi pagiku. Hari kesepuluh di bulan februari, wajah itu masih setia menyapa di hening pagiku. Masih dengan senyumnya yang hangat. Ia mengajakku untuk bercerita, berbagi apa saja yang dirasa. Kami seperti dua orang teman lama yang telah lama terpisah dan dipertemukan kembali. Saling mengisi, saling melengkapi. Akan merasa bahagia ketika yang lain berbahagia dan akan merasa tidak baik-baik saja ketika yang lain tidak baik-baik saja.

Hari kesebelas dan seterusnya wajah itu tetap setia menemaniku. Bukan hanya di hening pagiku, namun di sepanjang hari dan malam-malamku. Kini ia telah menjelma bintang yang menghiasi malam-malam gelapku. Menjelma matahari yang menerangi hari-hariku. Sekarang dan nanti, tak ada alasan untuk tidak berbahagia karena dialah kebahagiaan itu. Pagi ini dan seterusnya, aku ingin terus meyakini bahwa rindunya akan selalu menantiku di hening pagiku. Aku menyayangimu, Dee…seperti sebelumnya, sampai saat ini, esok dan  nanti. IMG_15155106488700