Image
0

I Go Back to May 1937

I see them standing at the formal gates of their colleges
I see my father strolling out
under the ochre sandstone arch,
the red tiles glinting like bent
plates of blood behind his head,
I see my mother with a few light books at her hip
standing at the pillar made of tiny bricks,
the wrought-iron gate still open behind her,
its sword-tips aglow in the May air,
they are about to graduate, they are about to get married,
they are kids, they are dumb,
all they know is they are innocent,
they would never hurt anybody.
I want to go up to them and say Stop,
don’t do it—she’s the wrong woman,
he’s the wrong man, you are going to do things
you cannot imagine you would ever do,
you are going to do bad things to children,
you are going to suffer in ways you have not heard of,
you are going to want to die. I want to go
up to them there in the late May sunlight and say it,
her hungry pretty face turning to me,
her pitiful beautiful untouched body,
his arrogant handsome face turning to me,
his pitiful beautiful untouched body,
but I don’t do it. I want to live.
I take them up like the male and female paper dolls
and bang them together at the hips, like chips of flint,
as if to strike sparks from them,
I say “Do what you are going to do, and I will tell about it”

Poem by Sharon Olds

Advertisements
Image
0

Sosok Yang Indah Itu Telah Berpulang

“Hal yang paling menakutkan bagiku sekarang bukanlah tidak memiliki banyak uang, kehidupan mewah ataupun jabatan tinggi. Hal paling menakutkan adalah jika saat aku dipanggil, kembali ke haribaanNya dan belum mempunyai cukup bekal untuk itu semua”

Sore kemarin, Kamis 30 Juni 2016 berita duka itu sampai padaku melalui status KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus. Pertama kali membaca isi status beliau yang mengabarkan tentang berpulangnya Ibunda Siti Fatmah Mustofa yang merupakan istri dari Gus Mus sendiri, saya merasa tidak percaya.

“apa iya? Apa saya ga salah baca?”

begitu bisik hati saya. Sampai pada akhirnya saya baca berulang-ulang status yang diawalai dengan kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” tersebut sembari membaca komen-komen pada status tersebut yang kesemuanya menyatakan turut berbelasungkawa atas berpulangnya ibunda. Pada titik itu saya baru yakin bahwa apa yang saya baca benar-benar terjadi, ibunda Siti Fatmah yang indah itu benar-benar sudah kembali keharibaanNya di hari ke 25 bulan romadhon yang suci ini.

Saya memang tidak pernah berkesempatan mengenal ibunda secara langsung. Saya hanya mengenal beliau melalui status ataupun foto-foto ibunda yang biasa diunggah Simbah Kakung atau Gus Mus di akun Fesbuk beliau. Namun dari kesemua itu saya bisa melihat bahwa beliau adalah sosok yang indah dalam segala hal dan menjadi panutan bagi saya yang awam ini. Seorang perempuan yang anggun. Seorang istri yang setia kepada suami. Seorang ibu yang menjadi panutan bagi anak-anak beliau. Seorang manusia yang berhati mulia.

Ibunda Siti Fatmah wafat pada usia 66 tahun. Usia yang hampir sama seperti ketika Kanjeng Nabi Muhammad SAW wafat. Kenyataan tersebut membuat saya menyadari sesuatu yang membuat saya benar-benar merasa khawatir dan takut. Khawatir dan takut dalam hal ini bukanlah takut mati, karena kematian adalah sebuah keniscayaan. Segala yang ada pada akhirnya akan tiada. Kekhawatiran dan rasa takut yang muncul pada diri saya adalah khawatir dan takut bagaimana jika pada waktu saya harus kembali keharibaanNya dan saya belum memiliki cukup bekal untuk itu semua????  saat sekarang saya masih menjadi manusia yang masih sering berbuat kesalahan dan melakukan dosa-dosa. Masih belum bisa benar-benar menjadi manusia yang berguna bagi sesama dan masih begitu banyak hal-hal yang belum mampu saya lakukan dengan baik sebagai manusia. Sedih juga menyadari kenyataan itu.

Menurut cerita dari salah satu putra Gus Mus, Ibunda Siti Fatmah meninggal dalam pelukan Gus Mus. “Allahhu akbar” dan “astaghfirullah hal adzim” menjadi kalimat terakhir yang terucap oleh ibunda sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Bahagia banget mungkin ya bisa kembali dengan cara yang baik. Semoga khusnul khotimah, ibunda.

Dan hari ini, saya telah kehilangan salah satu sosok panutan saya. Sedih iya, sempet nangis iya. Namun seperti kata Gus Mus…

”Mau gimana lagi yang memanggil dan mengambilnya adalah pemiliknya sendiri, pastilah Dia lebih menyayanginya”.

Selamat jalan, ibunda. Doaku selalu. Kau akan selalu ada dekat disini, didalam hatiku.

gusmus & ibunda siti

Gus Mus bersama Ibunda Siti Fatmah – Foto dari akun Fesbuk GusMus-

 

Image
0

Kebahagiaan

e48946aae36ca4f2eb024b3bc7a3d20b-d15grkp

Kebahagiaan, apakah kebahagiaan?
Tahukah kau dimana ia tinggal?

Kebahagiaan suatu hari pernah datang
mewujud seseorang yang katanya mencintai
mencintai dengan segenap hati
Dengannya aku pernah berani punya mimpi
tentang bintang dan sebuah rumah di masadepan

“aku mencintai kamu yang sekarang dan di masa-masa yang akan datang”
bilangnya padaku suatu waktu
dan begitu saja aku percaya

Pada saat yang lain kebahagiaan juga pernah datang
mewujud seseorang lainnya
yang dengannya aku bisa bercerita apa saja
apa saja yang terlintas di benak

“kita adalah teman yang akan menggenapi satu dengan lainnya”
begitu bilangnya suatu  waktu
dan lagi..begitu saja aku percaya

Lalu pada akhirnya….mereka menghilang
menghilang entah kemana
entah karena sebab apa atau bagaimana
yang kutahu bahwa jatah kebersamaanku dengan mereka telah selesai

Lalu, apakah kebahagiaan??
dimanakah ia tinggal??

Kebahagiaan ada didalam diri
ia ada didalam segala hal
segala hal yang bisa kau rasakan

Kebahagiaan adalah tentang bagaimana kau menemukan sudut pandang terbaik
dari segala hal yang kau lihat dan rasakan

 

Note:
Tulisan ini terinspirasi dari salah satu percakapan Alexander Supertramp dan Ron Franz di film Into The Wild

 

Image
0

Akhirnya Kau Hilang

gone

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu dimana-mana
Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu
Atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa-bahasa jauh
Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela rumah berbulan-bulan tidak dibersihkan
Atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu
Di jalan-jalan yang lengang atau bangku-bangku taman yang kosong
Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota
Seperti perpustakaan raksasa yang meleleh
Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara
dan aroma makanan yang kurang atau terlalu matang

Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong
Saat aku pulang dengan kamera
dan kepala yang berisi orang-orang murung yang tidak ku kenal
Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar
Buku cerita yang belum kelar kau baca telungkup bagai bayi tidur di dadamu
Tidak sopan katamu, mengerjakan hal lain sambil menyimak kesedihan dinyanyikan

Akhirnya kau hilang
Kau meninggalkan aku
Dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa

Puisi Oleh M. Aan Mansyur – Photo oleh Kittys Yellow Jacket

Image
0

I Am Happy For You

Rain_by_noridomotomiriki

Hai Byru,

Aku tahu bagaimanapun cuacanya saat ini di kotamu, kau sedang sangat bahagia. Pada pagi, siang dan malam-malammu aku tahu kau sedang sangat bahagia. Aku tahu dan paham bahwa saat ini kau tengah menemukan semangat yang seperti dulu lagi, seperti empat tahun silam ketika Tuhan entah mengapa menakdirkan kita bertemu dan bersama dalam waktu yang begitu singkat. Bedanya sekarang kebahagiaan dan semangat itu tidak kita rasakan bersama-sama lagi. Kau berbahagia dan bersemangat bersama dia, gadis belia yang bisa kau saksikan geraknya setiap hari. Yang bisa kau tatap matanya tiap kali kalian berpapasan di tiap sudut kantormu. Yang bisa dengan bangga kau pamerkan kepada kedua orangtuamu tanpa ragu dan malu karena status dan masalalunya yang tidak suram sepertiku. Aku tahu dalam segala hal dia sangat lebih baik dariku. Mungkin segala ekspektasimu sudah terpenuhi pada perempuan baru itu. Selamat ya.

“i am happy for you”

Byru,

Tahukah kau bahwa dalam mencintai manusia memerlukan lebih banyak keberanian. Keberanian yang dibutuhkan mungkin lebih besar dari keberanianmu menghindari masalalumu. Dalam mencinta kau bukan hanya diam dan menceritakan segala yang kau rasa kepada kertas dan komputer melalui puisi dan coretan-coretan. Dalam mencinta manusia memerlukan keberanian untuk mengungkapkan dan setelahnya ada tanggung jawab lain yang harus dipenuhi sebagai wujud cinta yaitu mewujudkan segala ungkapan kata-katamu menjadi wujud nyata, tindakan. Karena yang ku tahu seindah apapun ungkapan cinta tanpa tindakan nyata itu sama dengan nihil. Dan ketika kau mencinta itu berarti kau juga sudah siap dengan segala resiko, bukannya pergi tanpa kata-kata karena ketidakberanianmu mengambil resiko yang ada.Kuharap kau tidak lagi menggunakan cara-cara lamamu. Kuharap nyalimu yang ciut dulu sudah hilang seiring perjalananmu selama empat tahun ini.

“To love is to risk. To love is to be brave” quote by anonymous

Byru,

Pada akhirnya aku hanya ingin mengucapkan selamat kepada mu. Selamat karena Tuhan lebih dulu mempertemukanmu dengan perempuan impianmu. Semoga pada saat yang sama ini pula, Tuhan juga berbaik hati memberimu lebih banyak nyali agar kau menjadi laki-laki yang sebenarnya. Bukan pengecut yang lari setelah begitu banyak berkata-kata. KepadaNya selalu kulangitkan doa atas kebahagiaanmu, karena bahagiamu masih menjadi bahagiaku seperti bilangku padamu dahulu. Selamat mewujudkan mimpimu, Byru. Hanya tinggal sejengkal langkah. Yang kau butuhkan hanya keberanian. Maka menjadilah berani!

Image
0

Iris, And I’d Give Up

And let the song tell the story when your words can’t describe what you feel right now…

And I’d give up forever to touch you
‘Cause I know that you feel me somehow
You’re the closest to heaven that I’ll ever be
And I don’t want to go home right now

And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
And sooner or later it’s over
I just don’t wanna miss you tonight

And I don’t want the world to see me
‘Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s meant to be broken
I just want you to know who I am

And you can’t fight the tears that ain’t coming
Or the moment of truth in your lies
When everything feels like the movies
Yeah you bleed just to know you’re alive

And I don’t want the world to see me
‘Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s meant to be broken
I just want you to know who I am

Image
0

Permainan Jadul

MyLikes0204-01

Anak-anak bermain lompat tali di halaman sekolah (foto rere)

Jaman saya kecil dulu ada begitu banyak permainan tradisional yang biasa saya mainkan bersama teman-teman. Dulu saya begitu menyukai permainan seperti petak umpet, bongkar pasang, rumah-rumahan, lompat tali, masak-masakan, bekelan, patahan, dan masih banyak lagi. Semua permainan itu benar-benar sangat tradisional, simpel dan indonesia banget. Dari semua permainan itu saya paling suka dengan bekelan. Biasanya saya memainkan permainan bekelan di teras depan rumah bersama beberapa teman kecil saya.

permainan-jadul_6

Picture from google

Permainan bekelan ini dimainkan menggunakan sebuah bola bekel dan paling sedikit lima buah biji bekel berbentuk logam. Ada yang terbuat dari kuningan, ada pula yang terbuat dari bahan timah. Permainan ini dilakukan dengan cara menyebar seluruh biji bekel dan melempar bola keatas dan menangkapnya setelah bola memantul di lantai. Kalau bola tidak tertangkap atau memantul beberapa kali maka pemain dinyatakan mati dan harus bergantian dengan teman mainnya.

Di jaman modern seperti sekarang ini sudah jarang atau bahkan sudah tidak ada anak-anak kecil yang memainkan permainan tradisional seperti itu. Saya bahkan tidak yakin bahwa masih ada anak-anak jaman sekarang yang mengenal permaian-permainan tadi. Di era cyber seperti sekarang ini anak-anak lebih menyukai dan mengenal game-game komputer seperti Angry Bird, atau game-game playstation yang kian marak menenggelamkan permainan-permainan tradisioanal. Sangat disayangkan memang bahwa permainan-permainan tadi hilang begitu saja.

Photo0691

Salah satu foto hasil masak-masakan (foto rere)

Beberapa hari lalu saya menemukan beberapa anak di sekolah baru tempat saya mengajar masih ada yang memainkan salah satu permaian tradisional tadi, yaitu masak-masakan. Saya melihat anak-anak tersebut dengan asiknya mengiris daun-daun, bunga warna merah dan buah nangka muda untuk dijadikan sayur dan dimasak (masak-masakan). Tanah liat sebagai nasinya dan air putih yang entah dicampur apa sehingga berwarna coklat menyerupai air teh. Sedangkan peralatan masak-masakan tersebut seperti piring-piringan, gelas-gelasan, sendok dan lain sebagainya mereka bawa dari rumah. Benar-benar niat memainkan permainan ini, pikirku.

Dalam hati ada rasa senang juga bahwa ada beberapa anak yang masih dengan setia memainkan permainan tradisional tersebut. Sayang banget kalau permainan-permaian tersebut cuma tinggal ceritanya saja atau bahkan dilupakan begitu saja. Karena sejatinya permainan-permainan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia itu kaya akan ragam budayanya.